Rabu, 10 Juni 2015

DIA

Entah berapa lama ia duduk termangu didepan komputer, jarinya di atas keyboard seolah siap menuangkan apapun yang ada dalam pikirannya namun diam tak bergerak. Pandangannya kosong memandang layar komputernya yang mulai meredup, sesekali ia menarik nafas panjang. Ia tak lagi mendengar percakapan disekitarnya, mendadak dunia kosong dan hanya ada dirinya. Ia sibuk bermain dalam pikirannya yang tak terbaca.

Aku tanpa sadar memandanginya, gadis manis yang duduk berhadapan denganku. Rambutnya yang hitam panjang terlihat acak-acakan, tak seperti biasanya, lurus rapi tergerai. Wajahnya yang biasanya cerah ceria, bibirnya yang selalu tersenyum dan siap mengeluarkan celetuk-celetukan lucu, kini kusam dan layu. Aku sedikit merasa kuatir, sedikit penasaran apa yang terjadi padanya. Aku ingin bertanya, ingin sekedar menunjukkan simpatiku pada apapun masalah yang sedang dihadapinya. Tapi, ah, rasanya berlebihan. Mungkin dia hanya sedang ingin ditinggalkan sendiri dalam apapun yang ada dipikirannya.

Jam tanganku menunjukkan pukul dua belas, sudah waktunya makan siang. Dia tak ada dimejanya. Kapan dia beranjak, kenapa aku bisa tak menyadarinya. Mungkin dia sedang keluar makan siang, pikirku mengabaikan bisikan menggelitik disudut alam sadarku bahwa ia tak biasanya seperti ini. Namanya Irma, berkulit putih, bermata besar, sedikit tomboy tetapi memiliki wajah sepolos bayi. Jika ada orang yang tak punya masalah, sepertinya dia orang yang tepat. Wajah lugu itu selalu berhasil membuatnya lolos dari masalah, kami juga sering memanfaatkannya dan ia juga tak pernah terlihat keberatan jika ditempatkan dibaris pertama ketika atasan sedang mengalami hari yang menyebalkan.
Ketika aku kembali dari makan siang, aku melihatnya sedang merapikan meja kerjanya. Wajahnya masih pucat, lesu, namun senyum terukir diwajahnya. “Hai” sapaku, ia tersenyum lebar.

“Kamu sakit?”
“Sedikit”
“Oh..”, aku menarik kursiku dan mendudukinya, “Pulang aja kalau sakit”
“Iyah, ini juga mau pulang”

Ia mengalihkan wajahnya, sibuk merapikan kertas-kertas diatas mejanya. Aku seperti melihat genangan di sudut matanya, namun ku abaikan karena ku rasa itu bukan urusanku.
“Duluan ya” katanya, aku tersenyum mengangguk. Kembali ada yang menggelitik disudut alam sadarku, dorongan halus untuk memeluknya, namun kurasa hal itu kurang pantas dilakukan di tempat kerja.
Aku membuka pintu kontrakanku tanpa semangat, pikiranku masih digelayuti tentang Irma. Kelinci kecilku pun tampak tak bersemangat hari ini, ia tak menyambutku seperti biasa, ia hanya duduk setengah berbaring di bawah kursi tempatku biasa duduk untuk menonton tivi. Ia mengikuti pergerakanku dengan kepalanya, ia bahkan tak bergeming ketika aku mendekatinya, hidung kecilnya itupun tak bergerak seperti biasanya. Handphoneku tiba-tiba berdering singkat, sebuah pesan. Aku mengabaikannya sebentar karena ingin bermain dengan kelinciku, namun ia tak merespon. Aku meraih handphoneku dan membuka pesan ini, sebuah pesan massal, tampaknya link internet. “Ah, paling spam” gumamku, namun judul link tersebut menarik perhatianku. Aku membukanya dan air mataku langsung mengalir ketika membaca headline berita yang kubuka.

SEORANG KARYAWATI DITEMUKAN TEWAS
SETELAH TERJUN DARI LANTAI 6 PARKIRAN MALL XXXXX


Minggu, 25 Januari 2015

My Special Sunday

Another Sunday morning is coming, but today it’s become a little bit different than my usual Sunday morning. Well, today will got many difference than my usual vocation. I was in Jakarta – Indonesia Capital City - for these five days, and today will back to Medan – the city where I do live.

I come from Medan to Jakarta with 7.50 WIB flight at Wednesday January 25, 2015 for work reason. My company head office was here in Jakarta, and there is some work I have to do there. Sky was so clear that day, not like lately weather in Medan.

I managed to finish my task faster so I get some free time on Saturday, I have been planned to go back at Sunday (today). My friend and I want to visit Safari Park in Cisarua-Bogor on Saturday, so I bought my ticket at Friday afternoon. In my mind, my eyes and all my memory told me that I was buy airplane ticket for 16.20 WIB flight on Sunday 25 January 2015. I feel at ease because I already spare much time to go to Church at Sunday before me going to the Airport. I got the reminder short message, and even download the ticket from e-mail. I read it many times and really sure that my flight was on 16.20 WIB. Then, finally the Sunday is coming. I feel so comfortable and don’t think much, I prepare myself to go to church with my friend. Everything already prepared well, I think. I even have time to eat lunch with her before I go to Gambir Station to go to Soekarno-Hatta  Airport by bus.

And the sudden shock come to me when I already on the Bus, I read my ticket and realize that I already miss my flight. It is not 16.20 WIB flight I buy, its 12.20 WIB flight and my watch show 13.30 WIB. I check the reminder short message and it is for 12.20 WIB. What going on me, why I cannot see it. Hurriedly buy another ticket and got 19.30 WIB Flight which expensive. Now I do double check, I read word by word and number by number, worried that I miss something.

Spending IDR 690.000 for nothing feel suck, but thanks God, I still got some ticket to come back home or I will get punishment for absent. But for coming late, I got another experience at the Airport. I meet two middle age women that bring to many handbags for them to handle, and it quite heavy. I offer them a help, to bring one bag for them. One of them, the older, is going first with the escalator. In the middle way, she suddenly stumbles over because of the heavy handbags and rolled down. A nice young man catch her but he become stumble too and start falling, the second woman run try to catch but follow to fall because of the working escalator. I run and push the emergency stop button, the second woman was in my side, the older woman was under her and the young man somehow still standing and I nearly kiss his shoes (not romantic meeting LOL) .

Many people come to us with caring attitude, everyone want to help those women, but instead of helping, they just disturbing and make those women cannot stand. So I reach out to the oldest and take the heavy box that disturbing her so she can stand and take them with me to the elevator for people in need. The elevator cannot take three of us with all the baggage, even when I get out, it still exceed. I have to take one bag with me and leave them alone. I can see the worried sight in their eyes, I don’t know they feel sorry because I cannot go with them in the elevator or worry I will take their belonging away. So I go up running by stairs, nearly run out of breath, but too shy to say. Acting cool, I stand in the front of the elevator (which a bit slow I guess for one floor up) waiting for them. Take another heavy box with me and go to waiting room checking gate. And yet another thing held me back, the box I bring questioned by the officer. Of course I cannot answer what is in it, it is not mine. So I need to wait there until the owner coming and explain and let that box to recheck. We are lucky that nothing illegal in it. I take them to their waiting room gate and leave them there. I am tired, nearly out of breath (I almost never take sport), but acting cool when they come after me. Seeing their ‘thankfully’ eyes and warm thank you make me think that it is worthy. I feel at ease now wait for my flight at the lounge and write it down before I am too busy and forget it.


Kamis, 22 Januari 2015

Prioritas..oh..prioritas

Deani berusaha berjalan senormal mungkin, seanggun mungkin, sedikit risih, sedikit malu, sedikit ragu, sedikit gugup, sedikit senang melihat semua mata memandang dia. Jantungnya berdebar-debar, mata memandang ke depan, tas tangan digenggam erat. Deani tak pernah diperlakukan istimewa, malah terkadang disepelekan, tetapi hari ini berbeda, hari ini ia prioritas.

Bukan, ini bukan kiasan. Hari ini Deani benar-benar prioritas. Ketika Deani terhalang tumpukan manusia yang mengantri, tiba-tiba seruan "Prioritas..prioritas" terdengar dan dengan ajaib barisan tersibak dan memberinya jalan. Perasaannya bercampur aduk, langkahnya sedikit limbung, dan mendadak puluhan tangan datang membantu, memapahnya agar jangan sampai terjatuh.

Mendadak ada yang peduli, membuat Deani tersenyum kecil. Seorang pemuda dengan senyum tulus, mengulurkan tangan sambil menahan pintu, Deani menyambut tangan yang terulur, membiarkan dirinya dibimbing masuk.

Deani memandang kekiri dan kekanan, tak ada tempat tersisa. Kembali keajaiban kata 'Prioritas' terdengar, nyaris semua orang berdiri, memanggilnya dan memberi tempat, untuk Deani mereka rela berdiri. Ah, memang nikmat jadi prioritas, pikir Deani yang biasa dianggap tiada. Walaupun untuk sementara, setidaknya sampai ia melahirkan.

Selasa, 13 Januari 2015

Kenangan Petir

Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 WIB, awan gelap memenuhi langit. Dahan-dahan pohon berayun kasar, petir menyambar, guntur menggelegar. Matanya nanar memandang jendela, sesekali cahaya petir menerangi tubuhnya. Rambutnya yang panjang kusut tergerai, tangannya mengepal diatas pangkuan. Duduk disisi ranjang bersprei putih, kakinya menyentuh lantai dingin tanpa sandal.

Gelegar petir melemparnya ke sudut gelap diantara dua buah gedung perkantoran, hujan meredam teriakan saat pria tak berwajah mencabik-cabiknya. Ia menangis, meronta, si pria tak peduli malah tertawa. Ia memohon, memelas, mata si pria tertutup, mengerang. Si pria menarik celana, menghempasnya dalam tempat sampah, telanjang, tak berdaya.

Matahari terbit, menyinari wajahnya, ia bangkit, bau sampah menyeruak. Terseok keluar dari tumpukan sampah, meraba-raba pakaian yang terserak. Nyeri disekujur tubuh mengingatkan betapa lemahnya ia, bahwa masa depannya sudah luluh lantak. Ia lusuh, kotor dan berdarah tetapi tak ada yang bertanya, atau sekadar menawarkan bantuan.

Petir kembali menyambar, menarik ke kenyataan yang berbeda. Ia duduk sendiri di seberang meja seorang dokter yang tampak baik hati. Ia bingung, linglung. Ia mengandung, benih nafsu pria tak berwajah, ia harus menanggung malu, seolah ia tak cukup terluka. Sebatang kara, terlecehkan, kini harus menanggung janin haram.

Kini petir membawanya ke tepian gedung, tempat ia duduk termenung. Lalu lintas dibawahnya bagai semut, menggodanya untuk terjun. Ia menarik nafas panjang, menengadahkan kepala, memandang langit, menikmati matahari. Dibelainya perut yang membuncit, bibirnya tersenyum pahit. "Tuhan....." gumamnya tanpa lanjutan, bumi masih berputar, hidup masih berjalan.

Suara desir kursi roda yang didorongnya terdengar sayup-sayup, "Suster, tolong ke kamar 205 yah" seru seseorang padanya. Ia mengangguk, berjalan pelan ke kamar yang diminta. Mendadak jantungnya berdesir kencang, walau didepannya tak pernah ia kenal. "Jangan dia, suster lain saja" teriak sang pasien.

Ia tertatih berjalan menjauhi ruangan, perlahan si pria tak berwajah mulai tercipta wajahnya. Semua luka itu, tamparan dan tinju, ketika  ia runtuh dan hancur luluh menciptakan wajah si pria tak berwajah.

Cahaya petir menyambar sesekali menerangi wajahnya, rambutnya yang kusut tergerai, tangannya yang mengepal, sesosok tubuh yang meringkuk di lantai. "Tidak..kamu sudah mati..kamu sudah mati" gumam tubuh di lantai. "Yah aku sudah mati, saat itu dipinggir gedung. Lalu kau pikir aku akan pergi sendiri? Membiarkanmu menikmati hidup?".

Senin, 12 Januari 2015

(FF 100 kata) Dean

Arrrrgggghhhh.......

Dean membanting handphonenya ke dinding, matanya nanar memandang langit-langit, setengah tubuhnya merosot ke lantai. Nafasnya berat, sedikit terengah-engah karena kesal. Rekan-rekan kerjanya terlihat tak menggubris, walau wajahnya meringis, seolah menahan sakit. Keningnya berkerut-kerut, tangannya memukul-mukul, seolah lantai akan memberikan jawaban jika ia terus mengetuk.

Semenit, dua menit berlalu dalam hening, hanya suara keyboard komputer terketik. Tak ada yang bereaksi, atau sekedar mendekati. Suara dering telepon dimejanya tak membuat ia bergerak, atau sekedar berpindah tempat.

 "Kenapa, lo?" akhirnya ada yang peduli, meraih handphone setengah retak tergeletak di lantai dan menyerahkannya pada sang pemilik.

"Kesel gua, kalah mulu main 'Get Rich'".

Jumat, 09 Januari 2015

Failed Dog (dolls)

Selamat Tahun Baru semuaaaaaaa........

Hayo, siapa yang berhasil memenuhi resolusi tahun 2014? Atau malah nggak pernah buat resolusi?
Kalau kamu tidak pernah buat resolusi berartiiiiiii....kita sama saudara-saudara (shy...hahahaha).
Nah untuk tahun 2015 ini, saya pun membuat resolusi. Saya ingin membuat sesuatu yang 'cute', well.. berhubung salah satu hobby saya ini yah itu menjahit. Sebenarnya sih ini bukan resolusi baru hahaha, ini keinginan tahun-tahun kemarin yang menghilang dan kemudian muncul lagi lalu saya jadikan sebuah resolusi :-D .

Belakangan ini, saya suka sekali membuka situs 'Pinterest.com'. Ada yang seperti saya? hayoo ngacung.
Yup, itu situs kesukaan saya saat ini. Mengalahkan situs 'muka buku' atau 'burung biru' yang sangat booming saat ini. Disitus itu, apa aja ada (bukan promosi loh yaaa). Tetapi Pinterest itu awalnya terkenal sebagai situs DIY (Do It Yourself), alias situs dimana kita-kita bisa melihat tips dan tutorial ketika orang lain melakukan atau membuat sesuatu.

Nah, saya sering sekali mengubek-ngubek situs itu. Terutama dibagian Craft and Hobby, DIY, etc. Saya mencari tutorial boneka-boneka lucu dan..taraaaaaa...muncul banyak sekali tutorial free (for personal use only) yang bisa diadaptasi (baca *ditiru*) daaaaan...terlihat mudaaaaaaaah.
So, saya pun jatuh hati dengan sebuah 'pattern' anjing kecil yang imut dan terlihat sederhana. Dengan semangat Januari 2015, mulailah saya menggunting-gunting pattern persis seperti yang diberikan. Ok, easy part. Sekarang menjahit, ah gampang...tinggal sambungkan bagian ini dengan bagian itu. Ikut saja tutorialnya :-D , hasilnya pasti imut-imut seperti yang dicontohkan.

Setidaknya itu yang saya pikirkan, tetapi hasilnya....duuuuh..lihat saja lah fotonya. T.T


Sebelah kiri adalah contoh dari Pinterest, lucukaaaan... Sebelah kanan hasil buatan saya daaaaaannnn tidak ada imut-imutnya.

Yup, saya gagal saudara-saudara. Boneka anjing yang harusnya imut-imut itu menjadi mirip anjing hasil percobaan mr Frankenstein hahaha-hiks. Malah ketika teman-teman saya melihat, boneka anjing sebelah atas itu lebih mirip ajing laut, ada yang bilang mirip gajah (heloooo...belalainya mana..) dan boneka yang dibawah lebih cocok jadi kambing (dimana miripnya coba....-berusaha membela-).

Jadi, saudara-saudara.... ini memberikan pelajaran untuk tidak menganggap remeh sesuatu (lho?). Lha ternyata sesuatu yang terlihat mudah dan sederhana, tidak selalu demikian.
Lalu apakah saya menyerah? hmm..belum tahu yah. Sekarang sedang mau coba yang baru, belajar yang lebih simple dari pada yang ini. :-D

Semoga nanti saya berhasil membuat sesuatu yang imut-imut :-D.



Kamis, 06 November 2014

Kenanganku Di Padang (Edisi Nostalgia) - Tahap 1

Uhm...
Sebenarnya sih tidak pas sebulan diriku di kantor ini :-D sebab baru tanggal 15 Oktober 2014 yang lalu aku secara resmi mulai kerja dikantor ini setelah hampir lima tahun bertugas di sebuah kota di Sumatera Barat.

Hari ini entah mengapa, aku ingin menuliskan sepatah dua patah kata di blog ini setelah melihat blog salah seorang rekan kerja. Suka kagum deh dengan orang yang bisa konsisten menulis, aku dulu sih suka tetapi semenjak sibuk kerja (alasannya sih - padahal bisa aja kalau emang niat hahaha), jadi amat sangat jarang sekali menulis.

Aku kembali teringat masa-masa pertama kali ditugaskan di tempat kerja yang lama, pertama kali merantau sendirian ke tempat yang 100% asing. Aku tidak pernah bermimpi ditempatkan disana, bahkan mendengarkan nama kotanya saja jarang. Kota Padang - ku cinta dan ku bela, :-D , nice slogan, isn't it?

Kembali ingat hari itu ketika kami - para anak baru - dikumpulkan di ruang rapat UIP Kitsum II, diberikan wejangan ini itu lalu saat pembacaan lokasi penempatan kerja tiba. Aku tidak ingat bagaimana perasaanku saat itu, apakah deg-degan, atau biasa-biasa saja kah? Tetapi aku ingat yang langsung aku lakukan, bertanya apakah ada gereja disana.

Bukan bermaksud SARA, namun kesan bahwa kota Padang sebagai kota yang sangat kaku dan tidak menerima komunitas tertentu sudah tertanam diotakku. Aku takut kesana, orang tua apa lagi. Aku ingat mereka membuat 'acara' khusus untuk berbicara 6 mata denganku, menasihatiku dan mendoakanku secara khusus. Kekuatiran bahwa di Padang aku akan mendapatkan banyak kesulitan dalam masyarakat sebagai minoritas, dan sebagai anak pendeta, orang tuaku kuatir jika aku tidak dapat beribadah disana. Belum lagi disana belum lama tertimpa bencana gempa dan gempa susulan masih sering terjadi, dan kenyataan bahwa tidak ada keluarga atau orang yang dikenal di kota itu membuat aku dan orang tua ketar-ketir.

Tanggal 25 Februari 2010, aku dan seorang temanku tiba dengan selamat di kota Padang. Aku ingat pertama kali melihat kota Padang dari ketinggian 'Panorama', sekitar 40 menit dari kota Padang. Saat itu kira-kira pukul 05.30 WIB, matahari baru saja terbit, aku terpesona dengan keindahan alam yang ku lihat saat itu. Berkat 'keahlian' driver mobil travel yang kami tumpangi (wuih...kuenceeeeeeng, padahal jalanan menurun dengan cahaya remang-remang dan berkelok-kelok tajam), tak lama kami tiba di kota Padang. Aku juga tak dapat melupakan saat itu, kanan - kiri terlihat bangunan - bangunan yang hancur, jalanan yang retak, suasana yang sunyi sepi bagaikan kota mati. Bahkan ketika sampai ditengah kota, kesan sunyi sepi dan hancur itu masih sangat terasa.

Kami sedikit berputar-putar dalam kota, selain untuk mengantar penumpang yang lain dan juga karena kami tidak tahu lokasi dalam alamat. Driver mobil kami kebetulan bukan orang asli Padang, tetapi ia cukup tahu lokasi di kota Padang. Setelah sibuk menghubungi contact person dari kantor, kami tiba sekitar pukul 09.00 WIB di kantor (yang merangkap mess).
- Setelah beberapa waktu baru kami sadar kalau pool mobil travel yang kami tumpangi itu hanya 15 menit dari kantor :-D , dan aku langganan dengan travel itu setiap kali ingin pulang ke Palembang.

Saat tiba dikantor, kami dalam kondisi lelah dan lapar. Oleh seniorku, kami disuguhkan teh panas. Namun, karena teh itu terlalu panas akhirnya kami memutuskan untuk ke membersihkan diri. Sayangnya niat untuk istirahat harus kami tangguhkan karena senior kami langsung mengajak kami ke lokasi proyek, lokasi kerja kami yang sebenarnya. Nasib anak baru yang belum berani bicara, terpaksalah aku dan temanku ikut dengan hanya bisa saling memandang dan berbisik-bisik lapar. Perjalanan dari kota Padang ke Desa Bungus saat itu memakan waktu 45 menit, kami singgah disebuah rumah makan. Kecele tahap 2, kami pikir akan singgah makan, ternyata hanya singgah mengambil air minum T.T.

Perjalanan dari Bungus ke Lokasi Proyek masih memerlukan waktu 1 jam perjalanan karena jalanan yang masih tanah, tidak seperti jalan aspal mulus dari kota Padang. Untuk sampai di lokasi proyek, kami harus melewati beberapa cobaan saat itu, yang pertama adalah tanjakan dengan kemiringan hampir 40 derajat. Oleh kontraktor, tanjakan itu dinamai 'Tanjakan Menangis', mungkin karena mobil harus meraung keras dan susah payah untuk dapat naik, banyak pula yang gagal sehingga harus dibantu tarik dengan mobil 4wd atau alat berat. Aku ingat saat itu aku menahan nafas karena ketakutan, takut mobil itu tergelincir ke belakang yang sudah jurang menganga.

Setelah lolos dari tanjakan itu, kami harus menghadapi cobaan kedua. Jalan akses menuju lokasi proyek belum selesai saat itu sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati city car dan hanya dapat dilewati menggunakan mobil segala medan. Kami diantar sampai pemberhentian terdekat yang menyusuri pantai lalu jalan kaki menyusuri pantai yang tidak bisa dilalui mobil karena air laut sedang pasang, kemudian kami menumpang mobil kontraktor menuju shelter pekerja. Lapar, mengantuk, bercampur ketika kami tiba di shelter. Sudah tidak ada energi untuk sekedar membalas candaan pekerja-pekerja, hanya bisa tersenyum tanpa selera.

Mungkin sekitar 2 jam kami tinggal disana, manyun, bengong, mengantuk dan kelaparan. Sekitar pukul 15.00 WIB barulah senior kami yang tersayang itu sadar kalau kami belum makan dan dengan polosnya bertanya "Kalian belum makan yah?" sambil tertawa. Kami pun pulang, menumpang salah satu mobil kontraktor yang akan keluar lalu turun di tepi pantai, jalan kaki menyusuri pantai - celana basah kuyup - lalu naik mobil kembali ke Padang.

Begitulah hari pertamaku di Padang, kesanku adalah lapar :-D

Rabu, 11 Desember 2013

The Story before My Wedding Ceremony

Sepuluh November Dua Ribu Tiga Belas (10-11-'12), my big..big..big day. It was my marriage day..yay!
Duh maaf, kelepasan jadinya hahaha.. :-P
Okay..agak serius nih. Hari itu memang hari bersejarah buatku, karena hari itu Ta resmi mendua alias jadi istri orang. Yah setelah sering kali ditinggal nikah sama teman-teman yang lain, setidaknya Ta bukan yang terakhir - Ta nomor 2 dari yang terakhir hehehe.
So, its my marriage day - again..duh - teruussss?
Yah Ta memang mau cerita sedikit tentang upacara pernikahan ala kampung halamanku tercinta - Pulau Nias - walaupun memang sudah sangaaaaattttt dipermudah karena suamiku yang tercinta - ('¤') - bukan orang nias.
Ehem...semoga tidak ada yang alergi dengar kata piggy yah.. Soalnya almost every thing was count as pigs, tapi hanya sekedar perlambangannya saja karena pada akhirnya nilai si piggy diuangkan juga. Kebayang dong kalau binatang yang juga salah satu shio itu tiba-tiba berbaris didepan rumahku yang kecil dan ditengah komunitas muslim (no sara yah, kenyataan soalnya), jumlahnya pun tidak seekor-dua ekor loh tapi ratusan (ndak sampe ribuan kok..muhaaaalll hehehehe).
Sebenarnya sih tahapan-tahapan pernikahan ala orang nias itu banyak dan biasanya menggunakan jasa orang ketiga sebagai perantara yang menghubungkan orang tua pihak pria dan wanita. Tapi untuk kasus kami, well..perantara itu hanya dipakai saat acara adat saja - yah, simbolis. Berhubung suamiku orang NTT dan orangtuanya tinggal didaerah Sumba lalu orangtuaku di Palembang sementara kami berdua tinggal di Kota lain pula karena pekerjaan (cinlok ceritanya hehehe..), so everything is easier if we do it our self.
Marriage process start-priiiitttt...... (lebay.com)
Dalam pernikahan Nias dimulai dengan pencarian jodoh, ups..jangan kebayang seperti acara 'kontak jodoh' yah. Proses ini dilakukan diam-diam oleh calon mempelai pria dan/atau keluarganya karena mempelai wanita (tradisional) tidak boleh menunjukkan dirinya dihadapan sang pria dan keluarga sampai upacara pernikahan (duh..). Dalam tradisi nias juga, si anak gadis tidak diperlukan persetujuannya alias asal ortu oke sama oke yah lanjut.
Setelah ditemukanlah sang gadis pujaan maka si perantara akan menemui orang tua sang gadis untuk bertanya apakah anaknya masih free dan mau menerima calon mempelai pria.
In my case, nope. Proses itu langsung kami lakukan sendiri hahaha....iya dong, masa sih mau nikahin kucing dalam karung. So, calonku mendatangi secara langsung dan bilang mau menjadikan diriku istrinya (terpesona pada pandangan pertama dia..tapi baru 'nembak' setelah setahun temenan :-D). Yah ku bilang silahkan coba jadikan Ta istri - sadar soalnya kewajiban adat yang menanti hahaha. Setelah Ta bilang oke, baru deh kita pe-de-ka-te (nah lo.. Kebalik hahaha). Selanjutnya yah tidak jauh beda dengan pasangan-pasangan lain yang 'berpacaran' (tapi dia tidak mau disebut pacarku, katanya sih status 'pacar' akan membuat dia merasa punya hak untuk..ehem..ehem..yaaaahhh..ala pacaran orang gedelah... Tapi bukan berarti boleh pacaran dengan orang lain loh ya..- kan sudah komitment nikah!).
Setelah kami sama-sama yakin, barulah dia sendiri yang mendatangi orangtuaku untuk melamar. Sebenarnya - kata orangtuaku - aneh rasanya dia datang sendiri karena yah itu, harusnya ada orang ketiga. Tetapi orangtua kami mengerti, disitulah fungsi kami untuk menjelaskan sejelas-jelasnya pada orangtua kami masing-masing mengenai kondisi dan keinginan kami juga menjadi penengah. Intinya sih komunikasi yang lancar, lebih murah dan kami sebagai filternya, yang kami rasa akan sulit kami peroleh jika menggunakan jasa orang ketiga.
Setelah orangtuaku menerima, kini saatnya keluarga dia menemui keluarga kami. Peran kami berikutnya - menjelaskan kepada keluarga. Suamiku bertugas menjelaskan apa-apa yang harus mereka siapkan pada keluarganya (sesuai petunjuk keluargaku) dan aku nego sama orangtuaku. Yah pertimbangan jarak yang jauh, waktu yang pasti lebih dari 2 hari, biaya besar dan kemampuan fisik calon mertua yang sudah tak muda lagi, keluarga suami meminta 'kalau bisa' pertemuan keluarganya dipadatkan jadi mereka 'kalau bisa' datang ke Palembang cukup dua kali yaitu saat melamar dan saat pernikahan.
Acara lamaran di Nias itu terbagi 3:
1.Pertunangan (famatua)
2.Kunjungan mempelai pria ke rumah mertua (Famoro)
3. Penentuan jujuran -semacam mahar (fanema bola)
Acara-acara itu biasanya dilaksanakan terpisah dengan jarak kurang lebih 1 minggu (kata mommy q loh..). Kebayang dong berapa kali keluarga suamiku harus bolak-balik Sumba-Palembang, mau tinggal di Palembang lama-lama juga tidak bisa. Akhirnya dengan segala negosiasi yang kami lakukan, tiga acara itu digabung jadi satu.
Waktu hari H pertunangan, Ta dikurung didapur :(.
Alasannya tidak boleh kelihatan tamu undangan, tadinya sih diminta tinggal dalam kamar saja tapi dikamar tidak ada toiletnya terus pintu kamarku nyambung langsung ke ruang tengah tempat acara berlangsung.
Sebenarnya melalui telepon dan juga sehari sebelum hari H keluarga kami sudah bertemu secara pribadi alias pertemuan 12 mata untuk membicarakan jumlah jujuran dan lain-lain. Maksudnya agar tidak ada perdebatan yang berkepanjangan nantinya (pengalaman mommy waktu merid, 12 jam hanya untuk membahas jujuran-itu aja dah dibilang cepet loh.)

Nah, saudara-saudara, waktu dikurung itu diriku didatangi beberapa ibu-ibu. Awalnya Ta pikir mereka cuma mau ketemu en ngobrol-ngobrol doang, ternyata eh ternyata, Ta diminta -sorry- menanggalkan pakaian (oh..nooooo), malunyaaaaaa >.<.
Ceritanya sih tim ibu-ibu itu mewakili keluarga calon besan buat nge-cek (hiks..) kondisi fisik si calon mempelai wanita (ibarat membeli barang T.T ) agar tidak lecet, perawan ting-ting, memastikan kalau si calon mempelai tidak hamil duluan.
Setelah pengecekan yang mendetail tersebut, diriku akhirnya dipasangi kerudung dan dibawa untuk bersanding menemui calon mempelai pria. Dengan keluarnya diriku dari persembunyian, berarti nilai jujuran telah mencapai kesepakatan.
Acara pun berlanjut ke acara Famee (acara membuat menangis, harusnya sih Ta menangis malam itu tapi berhubung yang hadir itu rata-rata orang Nias perantauan yang udah nggak saklek lagi soal adat, Ta jadinya malah dibuat senyum-senyum karena mereka suka bercanda). Malam Famee itu pada hakekatnya adalah malam pelepasan, orang-orang tua memberi nasihat dan pesan-pesan kepada kedua calon mempelai. Kalau di kampung, malam itu akan terasa amat menyedihkan soalnya setelah menikah berarti si wanita bukan lagi hak milik orang tuanya dan -bisa jadi- tidak bisa mengunjungi orang tuannya tanpa ijin keluarga suami. Setelah semua orang tua yang ditunjuk telah menyampaikan pesan dan nasihat-nasihatnya, acara pun ditutup dengan pembagian potongan daging babi sesuai posisi penerima dalam masyarakat dan keluarga dan dengan doa bersama agar acara pernikahan berjalan lancar dan langgeng sampai kakek nenek serta dikaruniai keturunan dan rejeki yang banyak.

Kamis, 04 November 2010

JUST BECAUSE I LOVE YOU

Menunjukkan cinta dengan cara yang tidak dimengerti oleh pasangan kita bisa saja diartikan bukan cinta


ADAM : “Semua yang kulakukan hingga saat ini adalah karena aku mencintai kamu. Mengapa tidak ada yang pernah mengatakan padaku jika caraku salah hingga aku baru menyadarinya saat aku harus kehilanganmu?”

***********************

EVA : “Aku mencintaimu tanpa tuntutan, dan kebahagiaanku adalah mendapatkan cintamu. Kini aku tidak mengerti apakah salahku yang merenggut semua kebahagiaanmu karena cintaku, salahku yang tak pernah mengatakan betapa kebahagiaanku cukup dengan kehadiranmu. Hingga saat aku tersadar, dirimu telah jauh terpuruk dan aku terluka"


pinta freshka

10/18/2010

Finish @ 01 November 2010




Taman Universitas ‘Jasmine Alley’ tampak ramai dengan mahasiswa-mahasiswa yang membawa toga, beberapa diantara mereka duduk berkelompok sambil bercengkrama, sebagian lain terlihat sibuk membereskan berkas-berkas, ada yang tidur-tiduran dilapangan rumput dan ada sibuk berteriak-teriak menyebutkan nama mahasiswa yang belum mengisi daftar kehadiran untuk latihan Gladi Resik acara Wisuda yang sebentar lagi akan dimulai. Diantara keramaian itu terlihat seorang pria duduk disisi seorang gadis yang duduk bersandar dibawah pohon Beringin yang sengaja ditanam di taman oleh pengurus Universitas. Adam terlihat merapikan kuncir toga miliknya yang terlepas dari ikatannya, Eva hanya tertawa kecil melihat kesibukan kekasihnya itu. Gemas karena Adam berulang kali membuat kuncir lalu melepasnya lagi, Eva mengambil alih tugas itu. “Kenapa tidak dibawa ke salon aja sekalian Dam, mungkin kuncirmu ini harus di creambath dulu biar rapi” ujar Eva sambil tertawa, “Huh, bukan mauku melepas kuncir itu. Kerjaan si Bleki tuh, untung cuma lepas ikatannya. Kalau sampai kuncir itu lepas atau togaku rusak, ku jadikan hotdog anjing sialan itu” jawab Adam geram disambut tawa Eva “Kamu sendiri sih, sudah tahu dirumah ada anjing eh masih saja barang-barang ditaruh sembarangan” katanya.

Nama Adam terdengar melalui pengeras suara, “Dam, kamu dipanggil tuh” Eva menyenggol Adam yang asik mengutak-atik handphone Eva. Sepeninggal Adam, beberapa gadis mendekati Eva dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

Bagaikan kisah-kisah klasik cerita tentang percintaan, kisah antara Eva dan Adam juga merupakan permasalahan klasik. Eva adalah putri dari sepasang pengusaha. Ayahnya adalah pemilik dari sebuah grup usaha dengan enam anak perusahaan yang menangani enam bidang usaha didalam dan luar negeri, Ibunya adalah penguasa kota dengan jaringan restoran, salon, butik, minimarket yang bertebaran hingga disudut-sudut kota dan beberapa daerah lain. Anak bungsu dari empat bersaudara dan satu-satunya perempuan, kakak-kakaknya pun tak bisa dikatakan miskin. Anak sulung adalah pemilik salah satu jaringan showroom mobil dan alat-alat berat, anak kedua adalah seorang bankir dan pemain saham yang sangat disegani sedang yang ketiga adalah pilot dengan usaha sampingan didunia entertainment dan periklanan, Eva sendiri sebentar lagi akan diwisuda dengan gelar sarjana Management dari universitas terbaik.

Eva adalah anak yang menjadi kesayangan hampir semua orang, terkecuali untuk orang-orang yang iri dengan keberuntungannya. Apapun yang dia inginkan bisa diperolehnya dalam waktu yang sangat cepat, untuk belanja atau bersenang-senang pun ia tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun sebanyak apapun teman yang diajaknya ikut serta. Beruntung orangtua dan kakak-kakaknya tidak menghalangi hubungannya dengan Adam, mereka mendukung Eva apapun keputusannya. Rian – kakak sulungnya – bahkan pernah berkata “Aku suka dengan Adam, dia terlihat bisa diandalkan. Lagipula kalaupun dia gagal nantinya, kan masih ada kita yang support”.

Lalu kenapa dengan Adam? Kehidupan Adam adalah kisah klasik yang lain, yatim piatu berdua dengan adik perempuannya. Sanak saudara yang lain bisa dibilang tidak punya, ia dan adiknya berasal dari desa kecil yang saat ini sudah menjadi danau. Bencana yang datang dimalam buta menghabisi desa itu dan beberapa desa lain disekitarnya, hingga kini danau itu tidak juga kering. Adam dan Rosa selamat karena sedang ke kota bersama bibi mereka yang kemudian mengalami gangguan jiwa karena tidak tahan dengan kehilangan yang tiba-tiba itu. Wanita tua itu meninggal ketika Adam duduk dikelas dua SMA dan meninggalkan mereka berdua saja.

Adam adalah seorang pekerja keras, tidak terlihat sedikitpun ia lelah atau kehabisan akal untuk memperjuangkan hidupnya dan adiknya. Kecerdasan dan ketekunannya membuahkan sebuah beasiswa di universitas terbaik dan uang beasiswa itu masih ada kelebihan sedikit untuk membiayai pendidikan adiknya. Meskipun harus mengurus usaha kecil-kecilan miliknya dan bekerja serabutan sambil kuliah untuk membiayai hidup mereka berdua, Adam tidak pernah terlihat kesulitan menjadi nomor satu di kelasnya. Kemudian ia bertemu dengan Eva dan jatuh cinta, ia pun tidak mendapat kesulitan dari keluarga kandung Eva. Namun sayangnya ipar dan saudara-saudara Eva yang lain selalu merendahkannya, syukur hal itu tidak mempengaruhi penilaian orang tua dan kakak-kakak Eva.


*************


Senyum tak hilang dari wajah Eva dan Adam, acara pernikahan mereka terlihat begitu sederhana apalagi untuk orang-orang sekelas Eva. Limaratus kurang undangan yang datang hanyalah keluarga Eva, beberapa sahabat dan orang-orang yang sangat dekat dan berpengaruh dalam hidup mereka berdua. Rosa dengan perutnya yang membuncit terlihat duduk kelelahan dikursi pendamping pengantin, hanya ia sendirian dari pihak Adam. Tak kehilangan senyum, Rosa dengan bahagia menyambut jabatan tangan orang-orang yang memberinya selamat atas pernikahan satu-satunya kakak yang ia punya walau tak bisa berdiri untuk melakukannya. Sesekali ia memberi isyarat kepada Adam agar tidak terlalu menguatirkan dirinya, Rosa juga mengabaikan tatapan mata iba dari beberapa kenalan karena ia tak bersama suaminya yang meninggal setahun sesudah mereka menikah.

Ditempat yang lain ada juga orang-orang yang turut merayakan pernikahan Eva dan Adam, kehadiran mereka terlihat dari layar-layar besar yang menampilkan gambar video orang-orang itu. Kebanyakan merupakan rekan bisnis dan orang-orang lain yang menurut keluarga tidak perlu hadir secara langsung diruang resepsi.
“Huh, pernikahanku dulu dihadiri tiga ribu undangan tidak masalah tuh. Ini limaratus saja kurang, tempatnya juga tidak bonafit” keluh Bela, istri Rian. Ipar-ipar Eva yang lain mengamini, “Kenapa sih nggak papa aja yang bayar biaya pernikahan, kalau beginikan bikin malu” lanjut Silla, istri Leo kakak ketiga Eva, “Sok gengsian mau bayar sendiri, begini nih jadinya” lanjut wanita yang mantan mascot model merk busana terkenal. Sibuk menggerutu sambil menyambut ucapan selamat dari undangan, wanita-wanita itu tidak menyadari jika suara mereka terdengar oleh Eva dan Adam. Eva melirik ke arah pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya, Adam tak bergeming hingga Eva berpikir Adam tak mendengar gerutuan ipar-iparnya. Tetapi sangat jelas ditelinga Adam setiap kata-kata para wanita yang lebih dulu menjadi menantu itu, ia berjanji dalam hatinya akan berusaha dengan semua yang ia miliki untuk membuat Eva bahagia.

Tamu-tamu telah pergi ketika Rosa mulai mengerang kesakitan, ibu mertua Rosa mengenggam erat tangan Rosa dan menjerit-jerit memanggil Adam. Dibantu Leo dan Nano, Adam mengangkat adiknya dan memasukkannya ke dalam mobil yang dikemudikan Rian langsung ke Rumah Sakit terdekat.

“Eva, suamimu itu benar-benar mengesalkan” kata Bela pada Eva yang sedang mengambil tas dan sepatu Rosa yang tertinggal,

“Lho kenapa kak?” Tanya Eva

“Nanya lagi…lihat saja acara pernikahanmu ini, berantakan. Buat malu saja” lanjut Bela

“Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah kok. Acara pernikahanku luar biasa kok, indah dan…”

“Luar biasa dari mana, undangan saja tidak sampai lima ratus orang” sambung Ririn istri Nano sebelum Bela sempat menyelesaikan kata-katanya

“Tapikan undangan ditempat lainkan banyak” sanggah Eva

“Mana ada tamu hadir lewat webcam, bahkan gaun pengantinmu saja bukan hasil perancang terkenal. Kalau saja aku tahu, pasti aku sudah meminta perancang kenalanku membuatkan gaun untukmu. Gratis saja mereka bersedia, apalagi kalau dibayar” Silla menyentuh gaun pengantin Eva dengan ekspresi merendahkan.

“Gaun inikan rancangan Rosa, papa dan mama suka kok” sanggah Eva

“Itu lagi satu, kalau tahu mau melahirkan yah tidak usah datang saja sekalian. Sekarang merepotkan, sampai kakak-kakakmu ikut direpotkan jadinya” gerutu Bela

“Eva..” panggil ayahnya sebelum wanita itu sempat menyanggah ucapan kakak iparnya.

Ayahnya heran melihat mata Eva yang berkaca-kaca, “Kenapa sayang?” tanyanya. Eva hanya menggelengkan kepala lalu sesenggukan didada ayahnya, “Kamu sedih karena ditinggal suamimu ya?” tanya ayahnya dengan lembut yang tak dijawab oleh Eva. Pria tua itu menepuk lembut punggung putrinya itu, “Sabarlah, setelah ini kamu akan jadi bibi kan? Jangan sedih, bukan keingin Adam untuk meninggalkanmu setelah acara” ucapnya menenangkan, “Aku bukan sedih karena itu ayah” jawab Eva, “Lalu?” tanya ayahnya. Eva menarik nafas panjang lalu bertanya, “Ayah, apakah ayah malu dengan acara pernikahanku hari ini?”, “Tentu saja tidak” jawab ayahnya sambil tersenyum “Pernikahanmu sangat indah dan khidmat, memangnya kenapa? Apa ada orang yang mengganggumu?”. Eva menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Tidak ada apa-apa” jawabnya.


*************


“Selamat pagi sayang”, Eva membangunkan Adam yang masih berselubung selimut. Suaminya hanya menggeliat sedikit tanpa membuka mata, “Adam, kamu tidak kerja?” Eva menepuk-nepuk pipi Adam untuk membangunkannya namun tampaknya usaha itu gagal. Menghela nafas panjang, Eva memutuskan untuk menunda membangunkan Adam dan pergi menyiapkan sarapan. Diluar rumah masih gelap namun Eva tetap membuka tirai jendela, ruang tamu kontrakan mereka juga masih remang-remang diterangi lampu teras.

Mata Eva membulat ketika menyalakan lampu ruang tengah, “Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama sayang” bisik Adam yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Senyumnya merekah lebar, “Terimakasih sayang” kata Eva sambil memandangi ruang tengahnya yang penuh hiasan. Pita-pita berwarna-warni dengan balon-balon hati menghiasi sudut-sudut ruangan kecil itu, ada spanduk besar dengan tulisan ‘I LOVE YOU’ terpasang menutupi jendela, satu-satunya meja kecil yang mereka punya berada tepat ditengah ruangan yang tidak memiliki sofa atau perlengkapan lainnya. Diatas meja itu ada sebuah kotak putih besar dan sebuah amplop biru dengan pita disampingnya, dilantai yang dialasi karpet murah terhidang makanan yang dibungkus plastik dan sebotol minuman ringan dari swalayan. “Maaf sayang, aku belum bisa memasak jadi kamu panasin saja ya makanan itu” ucap Adam dengan mata yang masih tertutup, Eva tertawa kecil “Kapan?” tanyanya, “Tadi malam waktu kamu tidur,hoahm…..”jawab Adam sambil menguap lebar lalu melepaskan pelukannya dan berbaring dilantai.

Eva menahan keinginannya untuk membuka kotak diatas meja dan memilih untuk menyiapkan makanan karena pikirnya Adam harus bekerja dan masih ada banyak waktu nanti untuk merayakan hari yang spesial itu. Sambil menyiapkan makanan, Eva teringat perjalanan pernikahannya selama setahun, bagaimana Adam membuatnya bahagia setiap hari. Tidak hidup berlebihan seperti sebelum menikah namun tidak pernah sedikitpun ia merasa menderita. Orang tuanya masih mengirimkan uang ke rekeningnya dan Adam pun tidak pernah melarangnya untuk menggunakan uang itu sesukanya, namun ia memilih untuk tidak melakukannya karena ia tahu hal itu akan melukai harga diri suaminya. Setiap hal yang diperoleh suaminya – yang ia tahu diperoleh dengan kerja keras untuk mereka berdua terasa jauh lebih manis dari apapun yang diperolehnya dari tempat lain seberapa mahalnya pun itu.

Harum masakan memenuhi rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar tidur itu, namun tidak berhasil menggoda Adam untuk membuka mata. Terenyuh hati Eva melihat Adam yang masih tertidur samping meja kecil mereka, pantas saja Adam sulit terbangun pagi ini jika semalaman ia harus menghiasi ruang tamu dan menyediakan semuanya. Setelah makanan terhidang dilantai barulah Adam duduk sambil menguap lebar yang disambut tawa oleh istrinya, ia menarik wanita itu untuk duduk disampingnya lalu memindahkan kotak dari atas meja ke hadapan istrinya.

“Apa harapan kamu sayang?” tanya Adam sebelum mereka meniup lilin bersama,

“Enak saja, rahasialah” jawab Eva sambil menyalakan lilin,

“Ayolah biar kita bisa mengajukan harapan yang sama”

“Ngapain, harapan masing-masing lah”

“Pelit, ayolah istriku yang cantik. Kamu akan meminta apa, kan kalau diminta dua orang siapa tahu lebih kuat jadinya” rayu Adam

“Nanti saja ku beritahu setelah tiup lilin”

“Benar ya”

Eva hanya mengangguk kecil lalu memberi isyarat untuk meniup lilin itu bersama-sama.

“Eits, jangan main kabur..tadi minta apa?” Adam menahan Eva yang hendak berdiri mengambil pisau, “Aku hanya minta kamu diberi rejeki lebih dan kesehatan biar kita bisa menabung” jawab Eva

“Memangnya kamu mau beli apa?”

“Mengangsur rumah misalnya” jawab Eva sambil beranjak ke dapur.

“Ini”, Adam mengangsurkan amplop biru berpita kepada Eva yang baru saja duduk sambil membawa peralatan makan

“Apa?” tanya Eva

“Buka saja”

Eva menemukan beberapa helai kertas didalam amplop itu dan sebuah kunci, “Sayang ini?”. Mata Eva mulai berkaca-kaca, “Itu kertas persetujuan kredit, bukti pembayaran DP dan cicilan pertama, dan kunci rumah baru kita. Rumahnya sih kecil tetapi masih lebih besarlah dari yang ini, yang penting itu milik kita” kata Adam sambil memainkan jarinya diatas karpet tanpa memandang wajah Eva. Hening membuat Adam gusar, “Aku sudah minta ijin libur hari ini, kita bisa pergi meihatnya hari ini. Kalau kamu kurang suka, kredit ini masih bisa dibatalkan kok” katanya sambil memandangi istrinya yang sudah mulai menangis tersedu-sedu.

Melihat Eva menangis membuat Adam kebingungan, “Kenapa? Kamu marah? Tidak suka? Aku hanya ingin memberi kejutan, maaf tidak memberitahukannya padamu” katanya. Eva menggeleng keras lalu melempar dirinya kedalam pelukan Adam, “Terimakasih sayang..terimakasih” ucapnya berulang-ulang.

Eva langsung memberitahukan keluarganya jika Adam sudah mengambil sebuah rumah didaerah pinggir kota, bergantian orang tuanya dan kakak-kakaknya memberi selamat pada Adam dan Eva. Rumah itu memiliki tiga kamar yang dimodifikasi oleh Adam dengan mengurangi salah satu kamar dan menyatukannya dengan ruang makan, rumah itu belum selesai direnovasi sehingga mereka harus menunggu beberapa minggu sebelum bisa mulai mempersiapkan rumah itu untuk ditinggali.


*************


Sudah beberapa hari Eva tidak bisa menahan untuk memuntahkan kembali hampir semua yang dimakannya, wajahnya pucat dan lemas. Adam benar-benar menguatirkan kondisi istrinya, tiap ada kesempatan untuk menelepon ia akan langsung menghubungi Eva dan jika ia bisa pulang maka Adam akan berlari pulang walaupun hanya untuk lima menit bertemu dengan Eva. Ia bahkan meminta bantuan seorang perawat untuk menemani istrinya dan juga meminta bantuan keluarga iparnya untuk membantu mengawasi Eva. Kehamilan pertamanya memang menyusahkan namun Eva benar-benar bahagia, ia bahkan mulai merancang desain kamar untuk bayinya. Ia mengerti kekuatiran Adam, kematian Rosa seminggu setelah melahirkan membuat Adam ketakutan namun tidak mencegah Eva untuk mempertahankan bayi yang dikandungnya.

Tiga buah mobil yang tidak bisa dikatakan murah terparkir rapi dipinggir jalan depan pagar rumah Adam dan Eva, tiga orang pria berseragam berdiri sambil ngobrol di depan salah satu mobil. Pintu rumah mungil itu terbuka dan terdengar suara wanita-wanita sedang berbicara dari dalamnya.

“Rumah ini sempit sekali, nafasku sampai sesak. Aku sampai berpikir kalau sedang pakai korset” keluh Silla sambil mendekati jendela, “Panas pula”

“Hhh, ku pikir rumahmu ini besar..yah sebesar paviliun pekerja rumah tangga di rumah ku lah, eh..nggak taunya…” Bela menghela nafas panjang sambil menarik salah satu kursi didekatnya dan duduk

“Iya, ini sih sebesar pos satpam di rumah papa” Silla menyambung ucapan Bela sambil tertawa kecil.

Eva duduk menghadap saudara-saudara iparnya tanpa suara, ia terus mengelus-elus perutnya. Perasaan mual membuatnya tidak memikirkan apa yang diucapkan kedua iparnya itu, Eva sibuk mengatur nafas agar ia tidak sampai harus muntah didepan ipar-iparnya. Ririn yang memperhatikan sikap Eva, ia mendekati adik iparnya itu lalu memijat pelan pundak Eva “Dulu setiap aku mual, ibuku selalu memijatku seperti ini” gumamnya. Perasaan mualnya memang berkurang namun tanpa sadar air matanya jatuh dan itu tidak luput dari perhatian kakak-kakak iparnya.

“Kenapa sayang?” tanya Silla sambil menarik kursi dan duduk dekat Eva,

Eva hanya menggeleng pelan, “Benar-benar mual ya?” tanya Silla lagi sambil menyambut tissu yang disodorkan Bela dan menyeka air mata Eva

“Pasti karena disini sempit ya?kamu jadi tidak bebas bernafas” kata Bela sembari menyodorkan segelas air pada Eva

Eva kembali hanya menggeleng pelan

“Kalau kamu mau, kamu bisa ikut dengan salah satu dari kami. Kami akan menjagamu sayang, kamu juga tidak harus kesepian sendirian disini” kata Silla

“Iya, atau kita bisa menyewa perawat lebih dari satu orang untuk membantu kamu disini. Kalau Adam tidak sanggup membayar, biar kami yang bayar” lanjut Bela

“Kamu juga bisa pulang ke rumah papa Va, kami dan mama bisa bergantian menjaga kamu disana. Adam pasti juga tidak akan keberatan kalau kamu tinggal dirumah papa untuk sementara atau kalau perlu kalian pindah saja ke sana sekalian”

Bela dan Silla mengangguk memberi dukungan atas usul Ririn, “Disana semuanya ada Va, dari pada kamu di sini?” lanjut Ririn.

Eva hanya menggeleng pelan, “Terima kasih kak, saya disini saja. Adam sudah menyewakan perawat dan pembantu rumah tangga untuk menolong saya disini, kakak tidak usah kuatir” katanya.

Sebelum pulang, Ririn, Bela dan Silla sibuk mengecek perlengkapan dirumah Eva lalu menghubungi sebuah toko untuk memenuhi rumah itu dengan perlengkapan-perlengkapan rumah tangga yang mewah. Mereka juga memberikan instruksi-instruksi kepada perawat dan pembantu rumah tangga Eva, dan meninggalkan berbagai macam perlengkapan dan buku-buku petunjuk untuk calon ibu.

Sepeninggal ipar-iparnya dengan mobil mereka masing-masing, Eva masuk ke dalam kamarnya dan mulai menangis tersedu-sedu. Hatinya sesak bukan karena mual atau karena sakit hati pada ipar-iparnya itu, ia sangat merindukan keluarganya. Eva memiliki keluarga yang amat menyayangi dirinya, mereka sangat memperhatikan dirinya namun hal itu tidak cukup. Eva merindukan saat-saat mereka berkumpul dan bercengkrama, ia merindukan pelukan orang tuanya, ia merindukan saat-saat bercanda dengan kakak-kakaknya, ia merindukan semua kehangatan keluarga yang hadir secara nyata didekatnya. Sejak perusahaan ayahnya maju pesat, usaha ibunya berkembang dan kakak-kakaknya memiliki dunia mereka sendiri, kehangatan itu hilang. Eva tidak kehilangan perhatian keluarganya atau tidak bisa bercerita dengan mereka, tetapi semua itu tidak lagi nyata. Semua dilakukan dengan handphone, internet dan semua jenis teknologi. Ia ingat ulang tahunnya yang ke delapan belas dirayakannya hampir sendirian. Memang orang tua dan kakak-kakaknya ikut merayakan hari itu, mereka memberinya kue yang besar dan banyak sekali hadiah, mereka ikut menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ dan bersorak saat Eva meniup lilin, tetapi kehadiran mereka tidak lebih dari hasil proyeksi video stream di layar besar dalam kamarnya. Keluarganya tetap ditempat mereka masing-masing, hanya hadir melalui webcam dan sejam kemudian ketika koneksi itu diputuskan, Eva benar-benar sendirian.

Saat itu Eva hanya menangis sendirian sambil memandangi kue ulang tahun dan tumpukan kado di depannya, tidak ada pelukan, tidak ada potongan kue untuk saudara-saudaranya, benar-benar sendirian. Saat ini dengan kehamilannya yang masih muda, Eva juga menangis sendirian dikamarnya. Hal itulah yang membuatnya tidak mau kembali tinggal dengan orang tuanya, ia menemukan kehangatan keluarga di sisi Adam. Adam memberikannya kasih sayang yang nyata dan bukan sekedar sentuhan teknologi, ia tidak merasa perlu dengan semua fasilitas yang dimiliki orang tuanya selama ada Adam walaupun dengan kesederhanaannya. Eva tahu walaupun ia tinggal dirumah orang tuanya, mereka tetap hanya akan bertemu lewat telepon atau internet. Bahkan sejak ia hamil pun, keluarganya hanya menemuinya melalui dunia maya dengan layar dan proyektor yang dipasang Adam diruang tengah. Eva sangat menyayangi ipar-iparnya karena ia tahu wanita-wanita itu menyayanginya dan yang penting adalah mereka itu nyata, ia tahu jika semua sindiran ipar-iparnya itu bukan karena membencinya dan Adam. Ipar-iparnya adalah wanita modern yang terbiasa mengeluarkan pendapat mereka, mereka tidak munafik dan sayangnya mereka juga tidak kenal dengan hidup dalam kesederhanaan dan Adam tidak mengetahui hal itu.

Tanpa disadari Eva, Adam melihat dan mendengar semua pembicaraan Eva dan saudara-saudara iparnya. Beberapa kamera dan mikrofon yang dipinjamkan Nano cukup untuk membuat Adam bisa melihat dan mendengar dengan jelas apapun yang terjadi dirumahnya walaupun ia sedang ditempat kerja. Melihat Eva menangis membuat hatinya terasa seperti dicengkeram oleh tangan yang tidak terlihat, ia merasa bersalah untuk air mata Eva. Jika saja ia sedikit lebih sukses, jika saja ia bisa menyediakan semua keinginan Eva, dan puluhan kata ‘jika’ bergelayut di pikirannya. Erangan Eva yang tiba-tiba terdengar menyadarkan Adam dari lamunannya. Pria itu segera berlari pulang ketika melihat Eva merintih sambil memegang perutnya, ia segera menghubungi ambulans, keluarga Eva lalu bosnya sambil menyetir dengan kecepatan yang cukup untuk membuat lalulintas kacau, beruntung tidak ada polantas yang melihat dan menahannya.


*************

Adam tidak lepas menggenggam tangan Eva yang masih belum sadarkan diri, pikirannya sibuk memikirkan cara memberitahukan istrinya jika mereka baru saja kehilangan calon bayi mereka. Keluarga Eva diwakilkan oleh Ririn,Bela, dan Silla datang menjenguk dan telah pulang dengan meninggalkan handphone keluaran terbaru agar bisa mengirimkan kabar atau melakukan video call dengan seluruh anggota keluarga.

Handphone itu tergeletak dimeja kecil disisi ranjang Eva, memandangi benda itu membuat hati Adam miris. Harga dari handphone itu sama dengan lima bulan gajinya, tidak mungkin ia membeli benda seperti itu dengan hidupnya yang sekarang. Lalu ia mulai membayangkan Eva ditengah ipar-iparnya tanpa gaun yang mewah, perhiasan mahal dan hanya bisa mendengarkan cerita-cerita wanita-wanita ‘high end’ itu tentang liburan mereka ke luar negeri, ia membayangkan Eva akan menginginkan sebuah ranjang yang lebih besar dan indah dibandingkan ranjang kecil yang benar-benar hanya muat untuk mereka berdua. Bagaimana jika Eva memberinya seorang anak, bagaimana ia memberikan semua kebutuhan anaknya kelak, memberikan sekolah terbaik seperti yang diperoleh Eva dari orang tuanya. Ia mengingat tiap kata yang diucapkan istri-istri saudara iparnya dan ia tidak akan bisa lupa bagaimana Eva menangis tersedu-sedu lalu harus kehilangan bayi yang sangat ia inginkan.

Eva tersadar dan saat melihat ekspresi Adam, ia tahu apa yang terjadi. Tidak dapat menahan airmatanya, Eva memeluk Adam erat-erat dan menangis didada suaminya itu. Hingga rasanya ia lelah menangis, Eva baru melepaskan pelukannya. Ia tahu Adam turut menangis bersamanya, hal itu membuatnya sedikit tegar karena tidak merasa sendirian. Selama Adam bersamanya, hal itu cukup bagi Eva.

Tetapi tidak bagi Adam, ia terlalu mencintai Eva untuk melihatnya menangis. Airmatanya penuh penyesalan karena telah membuat Eva bersedih, merasa tidak memenuhi janji pada mertuanya. Dengan Eva dalam pelukannya, Adam berjanji untuk menjadi kaya. Ia akan membuat Eva bahagia dengan usaha kerasnya, Eva akan mendapatkan apapun yang ia inginkan, Eva tidak akan dihina lagi oleh ipar-iparnya, Eva tidak akan dipermalukan lagi, apapun yang harus ia korbankan meskipun itu adalah dirinya sendiri akan ia berikan untuk Eva.

Walaupun kecewa karena gagal menjadi Ibu, Eva bahagia merasakan kasih sayang suaminya. Adam tidak meninggalkannya sedikit pun, hanya pembantu rumah tangga mereka yang bolak-balik ke rumah sakit dan rumah untuk menyediakan semua yang mereka butuhkan. Setiap hari Adam membuatnya tertawa, Adam menyuapinya, menyisirkan rambutnya, dan semua yang dilakukan suaminya benar-benar membuatnya merasa menjadi manusia yang paling bahagia.

Ketika mereka kembali ke rumah, sebuah surat pemutusan hubungan kerja diterima Adam. Mengetahui hal itu, Eva hanya bisa membelai kepala Adam yang duduk diam di sofa ruang tamu rumah mereka. Sofa itu sofa baru, semua barang-barang mereka serba baru dan mahal. Diatur begitu indah dan sesuai untuk rumah mungil mereka, hati Adam teriris melihat semua benda-benda mahal itu karena semua itu bukan dari keringatnya. Ia ingat setiap jengkal dari rumah itu yang dikerjakannya berdua dengan Eva, ia ingat bagaimana mereka mendesain tiap sudut rumah, furniture dan dimana semua itu harus diletakkan. Adam ingat dengan jelas bagaimana ia membuat kursi santai kesukaan Eva untuk membaca, membuat sofa yang bantalnya dijahit sendiri oleh Eva, mendebatkan warna dinding dan kusen jendela lalu mengecatnya sendiri sementara Eva membuat tirai-tirainya, membuat ranjang lalu menabung untuk mendapatkan kasur yang bagus, mengatur taman dengan bunga-bunganya.

Sekarang dengan surat pemecatan ditangannya, Adam merasakan rumahnya tak lagi sama. Setiap sudut sekarang sudah berubah, lebih indah dan jelas lebih mahal. Merasa terhina dan kecewa karena bukan dia yang memberikan itu semua untuk Eva, Adam hanya menarik nafas panjang sambil memeluk istrinya dan berbisik “Aku akan bekerja lebih keras untuk kamu sayang”.

Dengan sedih Eva mengatur semua barang-barang yang tersingkirkan dalam ruangan yang seharusnya menjadi kamar untuk bayinya, tiap benda ditutupnya rapi dengan lembaran Koran dan kain bekas karena semua benda itu dibuat dengan cinta. Tetapi ia juga tidak berani menyingkirkan benda-benda pemberian iparnya, lagi pula Adam tidak menyuruhnya melakukan itu. Sementara Adam pergi mencari kerja, ia harus melakukan itu sendirian.


*************


Sepuluh tahun kemudian, Adam telah membuktikan janjinya. Sebuah rumah yang berukuran sepuluh kali rumahnya yang pertama telah lunas terbayar, rumah kecil itu kini tak berpenghuni namun Eva meminta agar rumah itu tetap dirawat baik. Koleksi perhiasan mahal, pakaian dengan mode terbaru dari rumah desain terkenal, perlengkapan rumah tangga yang mahal dan indah, gadget tercanggih dan sebuah mobil mewah telah ia persembahkan untuk Eva.

Adam memulai usahanya dari pinggir jalan, mengumpulkan barang-barang bekas, mengajari para pendatang yang mencari pekerjaan untuk membuat kerajinan dari barang-barang bekas itu. Usahanya mencari bahan baku, mengawasi pembuatan lalu menjual hasilnya, kini ia memiliki sentra kerajinan dengan beberapa cabang di beberapa daerah. Disiang hari, Adam sibuk mengurusi sentra kerajinannya sambil membuat sebuah peternakan di pinggir kota. Ketika malam hari, Adam ikut bermain di dunia pialang saham. Pendapatannya digunakannya untuk berinvestasi dibidang real estate. Insting dan perhintungannya membuat Adam menjadi pengusaha yang disegani bahkan oleh keluarga istrinya sekalipun.

Ketika semua orang mengakui kesuksesan Adam, ketika semua orang memuji-muji Adam, ketika semua orang mengatakan bagaimana beruntungnya Eva karena mendapatkan Adam, ketika banyak wanita lain iri pada Eva, wanita itu merasa benar-benar kesepian. Ambisi Adam membuatnya luar biasa sibuk, Eva hanya bisa memandangi suaminya dari layar-layar yang menunjukkan gambar dari kamera-kamera yang dipasang Adam agar Eva bisa melihatnya setiap waktu.

Malam itu badan Eva demam tinggi, ia mulai mengigau memangil-manggil nama Adam. Beberapa pelayan yang bertugas melayani semua kebutuhan Eva panik dan mulai menghubungi dokter dan Adam, mereka tahu jika terjadi sesuatu yang berbahaya pada Eva maka Adam tidak akan mengampuni mereka. Adam menunggui hingga Eva terbangun dari tidurnya sambil terus membelai rambut istrinya itu, air mata Eva langsung mengalir ketika melihat Adam disisinya. Wanita itu memeluk suaminya dengan erat sambil terus mengatakan bagaimana ia merindukan Adam, bagaimana ia ingin selalu bersama Adam, bagaimana tersiksanya ia ketika bangun pagi hingga ia kembali tertidur tidak menemukan Adam disisinya. Akhirnya Adam memasang kamera disetiap tempat ia berada agar Eva bisa melihatnya setiap waktu, kemana pun bahkan ketika sedang rapat atau ke toilet, Eva bisa melihat dan mendengar apa yang dilakukan suaminya. Eva bisa berbicara dengan Adam kapanpun dan bisa meminta apapun, namun bukan itu yang diinginkannya. Ia tahu Adam mencintainya, namun ia merindukan ketika pria itu memeluknya dan memanjakannya seperti ketika mereka hidup begitu sederhana.

Sekarang dengan dokter dan pelayan yang standby selama 24 jam di Eva dan kamera yang 24 jam aktif, Adam bisa memperhatikan istrinya itu secara langsung dan pribadi dimanapun ia berada. Hal itu membuatnya sedikit tenang, namun ia tidak pernah tahu jika Eva sering menangis diam-diam dalam tidurnya karena merindukan Adam. Ia tidak peduli dengan keheranan orang-orang disekitarnya karena disekitar Adam selalu ada kamera dan layar yang tidak pernah ada seorangpun yang pernah melihat gambar apa yang tampil dilayar itu. Ketika ia mulai lelah, Adam akan memandangi Eva dari layar itu dan kembali mengumpulkan semangatnya untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi untuk istrinya itu.

Adam tertegun sejenak melihat Eva berdandan dengan gaun yang indah, ia tidak pernah lupa bagaimana cantiknya Eva dan bagaimana wanita itu selalu membuatnya jatuh cinta. Ia merindukan Eva, ia ingin memeluknya namun ia tahu setiap menit yang ia punya dapat menghasilkan banyak uang untuk membahagiakan Eva dan ia tidak akan memenuhi egonya untuk berduaan dengan Eva. Tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri, Adam lupa kapan terakhir kali ia bersenang-senang dan menikmati hidup. Semua yang ia punya harus bisa membahagiakan Eva dan memberikan apapun yang diinginkan istrinya itu.

Tanggal hari itu sudah ditandai Eva dengan tinta warna-warni, tanggal yang menunjukkan tepat lima belas tahun mereka menikah. Eva memandangi tubuhnya dicermin dan menyadari jika ia masih memiliki tubuh yang indah walaupun usianya sudah mendekati empat puluh. Ia benar-benar menjaga tubuhnya agar Adam tidak kecewa ketika suatu hari ia ingin bercinta dengan Eva, namun hari itu tak kunjung datang karena Adam selalu sibuk dengan pekerjaannya. Eva sudah menyiapkan pakaian dalam yang akan membuat tubuhnya semakin indah, gaun yang cantik dan seksi, ia mengurai rambutnya yang indah karena Adam suka tenggelam dalam rambut Eva yang tebal. Tanpa peduli apakah ada orang lain yang melihat layar milik Adam, Eva mengenakan pakaiannya dengan gerakan menggoda sambil berharap sedikit saja Adam akan menginginkannya.

Eva tidak salah dengan harapannya, Adam bukan hanya sedikit menginginkannya. Adam kesulitan menghentikan hasratnya untuk berlari dan mencumbu Eva, ia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya karena tak bisa mengalihkan pandangannya dari layar. Tanpa perlu melakukan gerakan-gerakan yang mengundang dan pakaian yang seksi pun, Adam selalu saja kesulitan untuk menahan dirinya. Itulah sebabnya ia memilih untuk bekerja dekat tetapi cukup jauh dari Eva agar ia tidak setiap waktu berlari dan memeluk wanita itu, dan apa yang dilakukan Eva mempersulit keadaannya. Adam mengingat betul hari ulang tahun pernikahan mereka, sebuah kalung mutiara hitam yang dirangkai dengan berlian-berlian kecil diantaranya telah disiapkan Adam untuk Eva. Ia bisa membayangkan keindahan kalung itu akan menambah kecantikan Eva, kini Adam terbagi antara ingin melihat langsung Eva memakai kalung itu atau cukup mengirimkannya saja melalui kurir.

Ketokan halus dipintu kamarnya memanggil Eva untuk berdiri dari duduknya dan membuka pintu, seorang wanita muda berdiri didepan kamarnya dengan wajah yang terpana melihat Eva. Eva tertawa kecil melihatnya, “Kenapa Na?” tanyanya geli, gadis itu tergagap karena terkejut dan malu “Nyonya cantik sekali, seperti bintang film” jawabnya spontan sambil menunduk takut Eva akan marah mengetahui ia dengan lancang memandangi nyonyanya dengan mulut yang terbuka lebar. Eva hanya tertawa “Terimakasih Na, ada apa sampai kamu mengetuk kamar saya?” tanyanya lagi, “Tuan meminta supir menjemput nyonya” jawab gadis itu “Mobilnya sudah siap dibawah”.

Eva mengangguk dan menyuruh pelayan itu pergi, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Mungkin usahanya berhasil dan Adam sekarang menginginkannya, jantungnya berdebar kencang karena bahagia hingga rasanya ia akan melayang-layang karena senang. Adam juga tersenyum lebar dari kantornya melihat Eva menari berputar-putar seperti gadis kecil yang mendapatkan gaun baru, ia akan membuat Eva terus bahagia berapapun harganya.

Rasanya mobil itu berjalan sangat pelan hingga membuat Eva tidak sabar untuk segera tiba, rasanya interior mobil yang nyaman itu pun terasa begitu sempit dan menyebalkan. Lega dan senang memenuhi rongga dada Eva saat mobil itu berhenti didepan sebuah hotel mewah, ia mulai membayangkan Adam akan langsung memeluknya dan mengajaknya menginap di suite hotel itu. Seorang pria berseragam memberinya sekuntum bunga lily, “Untuk apa ini?” tanyanya, “Tuan Adam ingin memberi kejutan untuk nyonya” jawab pria itu sambil membungkukkan tubuhnya. Eva menemukan sebuah pita terlilit ditangkai bunga itu,

"TERIMAKASIH KARENA MENJADI ISTERIKU"

tertulis jelas dipita itu dan membuat Eva tersenyum. Ia mengikuti pria berseragam itu ke pintu lift yang segera terbuka ketika ia datang, pria berseragam itu mempersilahkan Eva masuk tanpa mengikutinya. Eva menarik nafas panjang dan sedikit bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya hingga ia melihat sebuah pita lain tertempel di angka lima belas,

"BERSAMAMU ADALAH HAL YANG TERINDAH DALAM HIDUPKU"

Eva menekan angka tersebut dan mencabut pitanya.

Lift itu naik perlahan membawa ingatan Eva ke saat-saat indah diawal pernikahannya dulu, setiap hari adalah petualangan baru bersama Adam yang selalu bisa membuatnya tersenyum lebar ketika suaminya itu pulang kerja. Pintu lift itu terbuka dan Eva menemukan pita yang lain tertempel disebuah tanda panah,

"ENGKAU ADALAH TUJUAN HIDUPKU"

Eva berjalan mengikuti arah tanda panah itu dan menemukan sebuah balon gas berbentuk hati ditengah koridor dengan sebuah pita yang bertuliskan

"ENGKAU WANITA YANG MEMBUATKU TERBANG KE LANGIT"

Eva melanjutkan perjalanannya dan menemukan sebuah kotak beludru dengan pita yang mengikatnya,

"ENGKAU YANG PALING BERHARGA DALAM HIDUPKU"

Eva menemukan seuntai kalung didalamnya, setelah terpana sejenak melihat kalung itu Eva kembali berjalan dan melihat cermin besar dengan sebuah pita yang lain,

"AKU INGIN MERANGKAI BULAN DAN BINTANG, AKU INGIN MENGALUNGKANNYA DILEHERMU"

Eva memakai kalung itu dan melihat berlian-berlian itu memantulkan cahaya yang membuat wajahnya terlihat bercahaya, ia lalu kembali mengayunkan langkahnya setelah diam sejenak dan menemukan sebuah vas dengan setangkai mawar merah dan lagi-lagi pita terikat ditangkainya

"APAPUN AKAN AKU LAKUKAN UNTUK MEMBUATMU BAHAGIA"

setelah mengambil bunga itu, Eva kembali berjalan dan menemukan sebuah kunci yang tergantung didinding,

"BAHKAN HIDUPKU PUN AKAN KU KORBANKAN AGAR ENGKAU TERSENYUM"

tertulis pada pita yang mengikat kunci itu. Eva kembali berjalan dan menemukan sebuah pintu dengan pita terikat pada ganggang pintunya

"AKU MENCINTAIMU EVALINE"

Pintu itu terkunci. Dengan kunci yang dipegangnya, Eva membuka pintu itu dan terpana melihat sebuah ruangan dengan banyak kaca dan bunga. Sebuah spanduk dengan tulisan selamat ulang tahun pernikahan terpasang disudut ruangan itu. Dihadapannya ada sebuah karpet tergelar dengan kelopak-kelopak bunga yang ditaburkan diatasnya, Eva berjalan menyusurinya karpet itu mengelilingi seluruh ruangan dengan banyak karangan bunga yang disusun bagai sebuah maze.

Jemari Eva membelai bunga-bunga yang dilewatinya, ingatannya kembali pada saat ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Kejutan-kejutan kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti, ketika Adam pulang saat jam makan siang hanya untuk mengecupnya dan mengatakan ‘I love you’, dan seluruh rumah yang penuh hiasan dalam semalam untuk merayakan ulang tahun pernikahan pertama mereka. Tahun-tahun berikutnya juga tak kalah indah hingga saat itu tiba, saat ia dan Adam harus kehilangan calon bayi mereka. Sejak itu Adam berbeda, ia seperti kerasukan dengan uang. Adam seolah kekurangan waktu untuk bekerja hingga harus mengirit waktu untuk hidupnya sendiri, semua dipercepat waktunya. Eva melihat Adam mandi dengan waktu kurang dari sepuluh menit, Adam bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan untuk mereka berdua dan menikmati sarapan itu di atas angkot. Eva bukan tak ingin memasak sarapan, Adam bersikeras melarangnya dengan alasan takut Eva sakit karena kelelahan dan kurang istirahat. Tiap Eva keras kepala dan bangun lebih pagi agar bisa mendahului Adam, pria itu akan lebih mempersingkat tidurnya hingga membuat Eva takut Adam benar-benar tidak akan tidur jika ia terus keras kepala.

Awal-awalnya semua itu terasa romantis, Adam sering mengajaknya makan diluar bagaikan sedang berkencan, jika Eva memasak makan malam maka Adam akan pulang lebih cepat dengan membawa seikat bunga dan menghabiskan masakan itu tanpa sisa. Adam menyewa dua orang pembantu untuk menolongnya, membeli kulkas, AC, dan lain sebagainya untuk mengisi rumah kecil mereka hingga rumah itu terasa terlalu sempit. Lalu suatu hari Adam menutup matanya dan membawanya ke halaman sebuah rumah mewah yang kosong dan mereka berlari-lari menyusuri tiap ruangan rumah itu sambil sibuk merancang dan berhayal akan seperti apa tiap ruangan yang ada, bagaimana warnanya, dan barang-barang apa saja yang akan mereka letakkan didalamnya. Saat hari ulang tahunnya, Eva hanya dapat menangis sambil menutup mulutnya yang ternganga karena terpana saat mengetahui rumah itu ternyata milik mereka dan ditata tepat seperti yang mereka bicarakan ketika mengelilingi rumah itu pertama kali, saat itu Eva mengira rumah itu hanya sebagai referensi rumah masa depan mereka.

Lalu keadaan perlahan berubah, Adam mulai sering mengajaknya ke tempat-tempat yang menjual barang-barang mewah, membawakannya oleh-oleh yang mahal walaupun Adam hanya pergi ke kota seberang. Adam perlahan semakin jauh, dari pagi sampai pagi lagi ia berada dikantor. Adam memang selalu memberitahu Eva dimana ia berada, tetapi ia tidak ada didekat Eva. Sempat wanita itu membayar detektif untuk menyelidiki suaminya, ia takut Adam selingkuh dengan wanita lain, tetapi hasil yang didapatnya adalah Adam berselingkuh dengan pekerjaannya. Semakin usaha Adam maju dan semakin mahal barang yang dimilikinya, Eva semakin kesepian. Sering ia kembali ke rumah kecil mereka, mengeluarkan barang-barang lama dari gudang dan menyusunnya kembali seperti ketika pertama kali mereka menempatinya. Sering menangis sendirian ditempat itu karena rindu dengan saat-saat berdua dengan Adam, lalu suatu hari ia pingsan di rumah itu dan ditemukan oleh supirnya. Malam harinya ia demam tinggi dan berpikir Adam akan sadar jika kehadirannya sangat penting untuk Eva, tetapi yang didapatkannya adalah layar-layar dan kamera.

Maze dari karangan-karangan bunga itu berakhir pada meja dengan sebuah kue tart dan lilin diatasnya, Eva melihat sekelilingnya dan berharap Adam bersembunyi disalah satu sudut ruangan itu lalu tiba-tiba muncul sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Tetapi Eva tak melihat ada orang lain selain dirinya di sana, Eva menyalakan lilin-lilin itu lalu terdengar alunan musik lagu ‘Happy Birthday to You’ dan perlahan cahaya diruangan itu meredup hingga tertinggal hanyalah cahaya lilin. Eva kembali berharap Adam bersembunyi dalam kegelapan dan muncul, mungkin setelah ia meniup lilin itu. Ketika lilin-lilin itu padam, lampu tiba-tiba hidup kembali dan ada seorang pria berseragam disana tetapi pria itu bukan Adam. Pria itu memberinya sebuah kursi yang indah dan mempersilahkannya duduk, lalu bergantian wanita-wanita cantik datang membawa gelas, piring, sendok dan hidangan-hidangan yang terlihat lezat. Tidak sedikitpun makanan itu menarik seleranya, ia hanya terus berharap Adam akan datang dan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung.

“Dimana Adam?” tanyanya setelah pria berseragam itu berhenti bekerja, pria itu tidak menjawabnya dan hanya memberikan sebuah kunci yang diletakkan dalam sebuah kotak plastik yang manis. Kehilangan kesabarannya, Eva mengambil kunci itu dan berlari menyusuri karpet merah menuju pintu keluar. Ia mencari ruangan dengan nomor yang sama dengan nomor kunci itu. Air matanya mulai menetes, dadanya sesak karena kecewa walaupun masih berharap dalam ruangan itu akan ada Adam menantinya. Setelah pintu kamar suite termahal dihotel itu terbuka, Eva menyadari jika harapannya sia-sia. Tidak ada Adam dimanapun, dan semua keindahan kata-kata, kalung berlian yang mahal, gaun yang indah, semua yang sudah ada terasa tidak ada artinya bagi Eva. Dengan lunglai ia meninggalkan hotel itu tanpa peduli dengan barisan pelayan yang memandangnya dengan bingung, ia meminta supirnya untuk mengantarnya ke tempat suaminya lalu menangis sejadi-jadinya dalam mobil hingga ia tertidur.

Gerakan mobil yang memelan membangunkan Eva dari tidurnya, ia berhenti disebuah gedung pencakar langit yang juga merupakan milik Adam. Gedung itu seolah menjadi bukti dari kesuksesan Adam, tetapi bagi Eva seolah gedung itu menjadi tembok tinggi pemisah ia dan suaminya. Berhenti didepan pintu kantor suaminya, Eva tertegun dan tidak mengulurkan tangannya untuk membuka pintu walaupun ia tahu Adam ada dibalik pintu itu. Wanita itu hanya meletakkan pita-pita bertuliskan kata-kata indah dari Adam, kunci-kunci dan kalung indah yang ia bawa di lantai lalu ia berbalik ke dalam lift. Dalam lift itu ia terduduk sambil menangis, hatinya benar-benar sakit dan merasa terbuang dan diacuhkan oleh Adam.

Adam termangu didepan lift yang tertutup, ia tahu Eva datang berdiri didepan kantornya. Namun ia hanya melihat layar untuk kamera didepan pintu kantornya sibuk menenangkan hatinya, ia takut akan menyakiti Eva jika ia tiba-tiba muncul. Tetapi saat melihat Eva menangis ketika meletakkan benda-benda pemberiannya ke lantai, Adam segera berlari hendak menemuinya namun terlambat karena Eva telah masuk lift. Ia sadar telah menyakiti hati satu-satunya wanita yang ia cintai, perasaan bersalah itu menahannya untuk mengejar Eva seolah kehadirannya selalu menyakiti Eva.


*************


Sebuah amplop coklat yang diletakkan sekretarisnya di atas meja membuat Adam gemetar hebat, ia melihat seorang pria berjas menunggu lobby dari layar besar di dekat mejanya. Adam bisa menduga apa isinya dan berdoa agar dugaannya salah, tidak pernah ia setakut dan sesedih hari itu. Ia sudah melihat ke seluruh layar yang menunjukkan gambar yang ditangkap kamera dari seluruh sudut rumahnya dan tidak melihat Eva dimanapun, ia tahu kemana Eva akan pergi tetapi ia tak ingin menghancurkan wanita itu dengan kehadirannya. Airmatanya mengalir saat membaca isi amplop yang tepat seperti yang ia takutkan, sebuah surat permintaan cerai dengan nama dan tanda-tangan Eva. Tangannya bergetar ketika menandatangani surat itu, ia meminta sekretarisnya mengambil surat itu lalu mengunci pintu kantornya. Ia terduduk bersandar di pintu yang terkunci dan menangis meraung-raung. Adam tidak mau kehilangan Eva, ia ingin menemui wanita itu dan berlutut didepannya untuk memohon agar surat itu tidak pernah ada, ia akan memberikan apapun dan melakukan apapun agar Eva tidak meninggalkannya tetapi mungkin perpisahan ini yang benar-benar akan membahagiakan Eva yang selalu terluka karenanya.

Kebingungan dengan apa yang salah dari tindakannya, apa lagi yang kurang dari yang dibuatnya untuk menunjukkan cintanya pada Eva. Adam meringkuk dalam kebingungannya dan berharap bahwa hari itu tidak pernah ada.


*************


Eva jatuh lemas, air matanya seolah banjir dan nafasnya memburu tak kuasa mengendalikan perasaan yang mendesak ingin keluar dari dadanya. Tandatangan Adam disebelah tandatangannya terasa seperti pedang yang menghancur luluhkan kehidupannya. Harapannya Adam akan menemuinya dan meminta agar surat itu dibatalkan, atau cukup datang untuk bertanya kenapa ada surat itu pupus sudah. Kini ia benar-benar merasa Adam tak lagi mencintainya, merasa terbuang dan disia-siakan.

Setelah siding perceraian mereka, Eva menata kehidupannya dengan sederhana seperti diawal pernikahannya dengan Adam - hanya kini tanpa Adam disisinya. Beberapa buah rekening yang saldo satu rekening saja cukup untuk hidup berfoya-foya seumur hidupnya tanpa terancam akan kehabisan uang dan terus bertambah jumlahnya, surat-surat yang menyatakan dirinya sebagai pemilik rumah, perusahaan dan seluruh harta yang diperoleh Adam tidak disentuh oleh Eva. Ia meninggalkan semua barang-barang mewahnya di rumah mewah mereka dan kembali pada kehidupannya yang lama dan serba sederhana. Ia tak peduli lagi dengan Adam, berapapun besar cintanya pada pria itu.


*************


Setahun setelah perceraian yang menyakitkan itu, Kilua muncul dihadapan Eva. Pemuda tanggung itu tersenyum cerah saat Eva membuka pintu rumahnya, “Pagi bibi Eva” ucapnya lalu tenggelam dan pelukan Eva. “Kilua…ya ampun, besarnya kamu sekarang” kata Eva sambil memeluk keponakannya itu erat-erat hingga pemuda itu sesak nafas

“Bibi, hegh…” ucap Kilua dengan nafas tersengal, “Bibi Eva ternyata kuat sekali” lanjutnya setelah Eva melepas pelukannya

“Maaf..maaf” Eva tertawa, “Habisnya bibi benar-benar kangen sama kamu, sudah lama sekali tidak ketemu”

“Iya, terakhir waktu aku tamat SMP ya..”

“Ya dan kamu memilih ikut nenekmu dari pada kami”

“Habisnya nanti nenek tidak ada yang jaga bi, lagi pula Belanda itu memang indah” Kilua mengikuti Eva yang menarik tangannya ke dalam rumah.

Kilua adalah anak Rosa yang kini berusia enam belas tahun, seharusnya usia pernikahan Adam dan Rosa juga sama. Setelah dilahirkan, Kilua diasuh oleh ibu dari ayahnya. Orang tua itu memohon-mohon pada Adam dan Eva agar diijinkan merawat cucunya itu, dan Adam pun merelakan satu-satunya saudara sedarah yang ia miliki dirawat neneknya walau dengan sangat berat hati. Ketika Kilua berusia empat belas tahun, neneknya sakit dan diminta untuk pergi ke Belanda oleh anak pertamanya yang memang bekerja disana. Wanita tua itu keberatan karena tak ingin jauh dari Kilua yang akhirnya memutuskan untuk ikut ke Belanda. Eva memiliki kesamaan dengan wanita tua itu, mereka sama-sama kesepian. Tetapi wanita itu memiliki Kilua dan Eva memiliki Adam, tetapi kini Eva merasa seperti tak memiliki siapapun.

Wajah Kilua benar-benar mirip dengan Adam waktu muda, dengan ekspresi lucu dan polos dan mata yang berbinar-binar. Eva meringis memperhatikan Kilua yang asik bercerita tentang masa-masa kecilnya bersama Eva, Adam dan neneknya.

“Sejak kapan kamu di Indonesia Lu?” tanya Eva

“Setahun yang lalu, yah sejak nenek meninggallah”

“Lalu dimana kamu tinggal sayang?”

“Dirumah bibi, berdua dengan paman Adam” jawab Kilua,

Eva hanya tersenyum kecil menahan air matanya, setidaknya Adam akhirnya menikmati rumah itu walaupun harus menunggu ia pergi.

“Kenapa?” tanya Kilua

“Apa?”

“Kenapa bercerai, padahal paman sangat mencintai bibi. Dan bibi juga sepertinya masih cinta paman” ujar Kilua sambil menunjuk ke arah cincin pernikahan yang masih dikenakan Eva.

“Bibi memang cinta dengan pamanmu, selalu begitu. Andai saja pamanmu juga mencintai bibi seperti bibi mencintai dia…ah sudahlah, ayo sudah malam, bibi tadi memasak opor ayam loh” katanya

Wangi masakan menyeruak saat Eva masuk sambil membawa sebuah mangkuk dengan asap melayang dari dalamnya, “Paman sangat mencintai bibi, lebih dari apapun” ujar Kilua sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


*************


Kilua kecil berjalan memasuki koridor kantor Adam, sebelah tangannya menarik tali yang mengikat seekor anjing dan dengan tangan yang lain menggandeng neneknya diikuti seorang supir yang menenteng tas sekolah dan sebuah keranjang rotan. Sekretaris Adam tersenyum lebar sambil mengacak rambut Kilua dan membukakan pintu kantor Adam untuk Kilua dan neneknya. “Siang Paman..” seru Kilua begitu masuk dan berlari ke arah Adam yang sedang duduk dibalik mejanya, Adam menyambut Kilua dipangkuannya. “Siang Adam” sapa nenek Kilua sambil tersenyum dan berjalan menuju sebuah kursi goyang disudut ruangan yang didekatnya telah diletakkan barang-barang yang dibawa oleh supir tadi.

“Bagaimana liburanmu?” tanya Adam sambil membantu Kilua melepas rompi seragamnya

“Asik paman” Kilua melepaskan sepatu dan kaus kakinya, “Udaranya dingin banget”

Kilua menenteng sepatu dan rompinya sambil berlari kecil ke arah neneknya yang sudah menunggu dengan baju kaus dipangkuannya, “Coba paman ikutan, bibi Eva pasti juga mau ikut kalau paman ikutan” lanjut Kilua sembari membiarkan nenek membantunya berganti pakaian.

Anjing Kilua mengangkat kepalanya saat sekretaris Adam masuk sambil membawa mangkok makanan anjing lalu menyerahkannya pada Kilua yang langsung membuka keranjang neneknya dan menuang sebungkus makanan anjing ke dalam mangkok. “Paman lupa makan lagi ya?” seru Kilua ketika melihat nampan berisi makanan dari kantin masih tersusun rapi diatas meja kecil beroda di dekat meja kerja Adam. Kilua melipat tangannya didada sambil menggelengkan kepala dengan ekspresi seperti orang dewasa membuat Adam dan Sekretarisnya tertawa terbahak, “Hmm, inilah jadinya kalau Kilua tidak datang. Kalau sakit bagaimana? Sini Kilua suapin” gerutu Kilua sambil mendorong meja itu ke dekat tempat duduk Adam. Sekretaris Adam mendekatkan sebuah kursi untuk Kilua sebelum mengambil berkas-berkas yang telah ditandatangani Adam lalu pergi dengan meninggalkan sebuah kecupan gemas dipipi Kilua, Kilua segera memanjat naik ke atas kursi dan mulai menyendokkan makanan untuk Adam.

Nenek Kilua hanya melirik sebentar ke arah mereka lalu kembali larut dalam sulaman kainnya, Adam membuka lebar mulutnya ketika Kilua menyorongkan sendok penuh makanan ke arahnya tanpa meninggalkan pekerjaannya. “Kalau paman terus malas makan, nanti Kilua bilang bibi loh” ancam Kilua

“Jangan Lu, nanti bibi marah” kata Adam sambil tersenyum kecil

“Kenapa bibi tidak pernah ke sini paman?”

“Bibimu sibuk, dia harus istirahat sekarang. Kasihan kalau harus menemani paman disini”

“Paman tidak rindu dengan bibi?”

Adam tercenung sejenak, “Rindu sekali” jawabnya

“Lalu kenapa terus disini?”

“Paman harus bekerja, sayang”

“Untuk apa?”

“Untuk bibimu, biar dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan”

“Tapi pamankan kangen bibi”

“Selama bibimu senang, tidak apa-apa kok. Kasihan bibimu sedih terus karena paman, diejek karena paman”

“Uh, paman ini. Kalah terus kalau lihat bibi menangis” Kilua menggelengkan kepalanya.

Eva tertegun mendengarkan cerita Kilua, apakah benar Adam mencintai dirinya? “Kamu sering ke kantor pamanmu, Lu?” tanyanya yang dijawab anggukan kepala Kilua.

“Lua sering ke kantor paman, kecuali hari minggu atau paman sedang tidak masuk kantor atau saat jalan-jalan dengan nenek dan bibi”.

Kilua menyendokkan makanan ke mulutnya, “Paman tidak peduli sedang sakit atau tidak, paman akan terus bekerja. Banyak sekali map di atas mejanya, apa lagi kalau bu Mieske tidak masuk kerja. Kadang kasihan lihat paman, mondar-mandir terus telepon sana sini sampai lupa makan. Sering badan paman panas sekali sampai mimisan, tapi setelah dokter pergi tetap saja mulai kerja” katanya lalu berhenti untuk menelan makanannya, “Kata paman, kalau dia istirahat sebentar saja maka bibi bisa kehilangan satu yang bibi mau dan menjadi tidak bahagia. Sebentar-sebentar paman pasti melihat bibi di layar dan menelepon pembantu-pembantu untuk mengingatkan bibi makan atau minum obat padahal dia sendiri lupa makan. Paman kangen sekali sama bibi, makanya Lua heran kenapa bibi tidak pernah main ke kantor paman” lanjutnya.

Eva membenarkan hal itu dalam hatinya, bertahun-tahun Adam menempati tempat kerjanya tanpa sekalipun dikunjungi oleh Eva. Ia tidak pernah masuk dalam ruangan itu karena ia membenci kantor Adam, ia tidak pernah menemani Adam bekerja atau memperhatikan kesehatan Adam. Ia tidak pernah tahu bagaimana keadaan Adam, bagaimana perasaan Adam karena ia sibuk memikirkan perasaannya sendiri yang kesepian jauh dari Adam. Perasaan sesal mulai merasuk dalam hatinya. “Setiap bibi bertemu paman, pasti bibi menangis bahkan sakit. Paman takut sekali, paman tidak mau bibi sedih. Makanya paman memasang banyak sekali kamera agar ia bisa selalu melihat bibi, kamera diruangan pamankan baru dipasang waktu bibi sakit karena ingin melihat paman terus menerus”, satu kebenaran lagi yang dilupakan oleh Eva. Ia lupa jika Adam lebih dahulu memiliki kamera yang merekam gambarnya dua puluh empat jam, ia juga selalu mengeluarkan uneg-unegnya jika bertemu Adam. Ia selalu menangis karena tidak puas dan protes, ia tidak sadar jika hal itu justru dianggap Adam sebagai tanda jika ia tidak senang didekat Adam.

Kilua menyusun sendoknya pertanda ia selesai makan, “Yah setidaknya bibi sekarang benar-benar bahagia tanpa paman” ujarnya. “Pamanmu juga bahagiakan ketika kami bercerai?” tanya Eva sedikit berharap jawabannya adalah tidak,
Kilua menarik nafas panjang, “Tentu saja tidak” jawabnya. “Nenek meninggal dua hari sebelum kalian bercerai, Lua pulang setelah nenek dikuburkan. Lua melihat sendiri paman gemetar saat melihat surat bibi, wajahnya pucat sekali. Tangannya saja gemetar hebat waktu tandatangan dan waktu itu paman menggigit bibirnya keras sekali sampai berdarah” mata Kilua mulai berkaca-kaca, “Kilua juga masih ada dikantor paman saat bu Mieske menyerahkan surat itu kepada pengacara bibi dan paman menangis meraung-raung saat pintu kantornya ditutup. Untung saja kantor paman kedap suara, kalau tidak pasti bu Mieske akan kuatir mendengar paman”. Air mata Eva menetes tak percaya, ia ingat bagaimana surat itu juga menghancurkan hidupnya.

Keheningan merasuk dalam rumah itu, “Setelah hari itu, paman seperti mayat hidup. Ia memberikan apapun yang harus ia berikan untuk bibi dan untuk Lua juga, perusahaan paman sekarang diurus paman Rian, paman Nano, dan paman Leo untuk bibi biar bibi tidak perlu capek mengurusnya karena paman Adam tidak mampu lagi melakukannya. Kerjanya hanya berkurung dikamar kalian sambil menangis seharian”, Eva mulai menangis sesenggukan. “Bibi ingat bibi Jessie kan, adiknya ayah Lua. Bibi Jessie minta Lua tinggal dengan dia di Bandung karena paman Adam sudah dua bulan yang lalu meninggal dan juga karena Lua tidak mau jauh dari makam paman Adam, papa dan mama juga”, Kilua juga mulai menangis bersama Eva. “Tadi pagi Adam masuk kedalam kamar paman dan bibi, diruang layar-layar televisi ada banyak kaset rekaman bibi” kata Kilua sambil menarik tasnya dan mengeluarkan setumpuk kaset video lalu meletakannya diatas meja makan, “Lua juga menemukan kaset rekaman paman berserakan di lantai, beberapa pecah mungkin dibanting terlalu kuat oleh paman. Lua ke sini untuk memintanya, karena bibi pasti tidak maukan? Soalnya waktu paman meninggal bibi juga tidak datang” kata Kilua sambil sesenggukan.

Berita Adam sekarat hingga akhirnya meninggal didengar Eva dari Rian, ia menghabiskan hari-harinya untuk menangisi Adam. Ketika akhirnya Adam menghembuskan nafasnya yang terakhir dari hari-hari sedih tanpa Eva, Eva meringkuk diatas ranjang pertama mereka sambil berteriak dan menangis seperti orang gila. Ketika hari penguburan Adam, Eva bahkan tidak mampu membuka matanya tanpa menangis dan melolong seperti kesakitan karena jiwanya memang terluka karena Adam. Ketiga kakak iparnya bahkan tidak meninggalkan Eva sedikitpun selama sebulan penuh karena kuatir sampai Eva cukup kuat untuk berdiri diatas kakinya sendiri. Dan sekarang Kilua menghancurkan semua pertahanannya, apalagi saat menyadari jika ia telah salah menilai Adam.

Kualitas film dalam kaset-kaset itu sangat bagus karena Adam memang menyediakan yang terbaik, setiap detail gambarnya terlihat jelas. Eva menyesal tidak pernah benar-benar memperhatikan video Adam, kini ia baru menyadari jika Adam terlihat menyedihkan. Wajahnya terlihat lelah, matanya berkantung dan pipinya cekung, tetapi mata Adam selalu bercahaya. Tiap Adam melihat ke satu arah yang Eva tahu itu adalah layar yang menampilkan dirinya, Adam akan selalu tersenyum lebar dan bekerja dengan senyum lebar walaupun ia terlihat amat lelah. Eva baru menyadari Adam bertahun-tahun hidup dalam ruang kantornya tanpa meninggalkannya kecuali memang ada sesuatu yang sangat penting, Eva tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat Adam bersenang-senang untuk dirinya sendiri. Sementara Eva keliling dunia dan bersenang-senang untuk menghilangkan kesepiannya tanpa Adam, Adam hidup dalam kesepian itu untuk hal yang ia pikir merupakan kebahagiaan bagi Eva.

Penyesalan itu meremukkan hati Eva tanpa tersisa, ia menyesal tak pernah mengatakan pada Adam jika pria itu sudah membuatnya bahagia, ia menyesal tak pernah mengatakan pada Adam jika kehadiran pria itu yang sesungguhnya ia butuhkan, ia menyesal tak pernah mengatakan betapa ia mencintai pria itu, ia menyesal selalu membuat Adam serba salah dengan airmatanya setiap pertemuan mereka yang jarang terjadi, dan ia menyesal tidak masuk ke dalam kantor Adam di hari ulang tahun pernikahan mereka dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada pria itu. Berjuta kata perandaian melayang-layang didalam benak Eva dan membuatnya terpuruk dalam penyesalan. Sementara Kilua sudah tertidur karena lelah menangis bersama Eva, Eva meringkuk dan menangis hingga dadanya begitu sesak sementara dalam hatinya menangis lebih sakit lagi.



**** SELESAI ****

Senin, 31 Mei 2010

palsu

Seperti biasa, pria-pria itu akan memandangi Reva dengan tatapan terpesona sedang para wanita memandanginya dengan pandangan iri. Seperti biasa juga, Reva dengan santai melenggang di depan orang-orang itu.

Kegiatannya cukup padat hari itu, dengan beberapa ujian dan tugas yang harus segera dikumpulkan. Belum lagi dengan kegiatan UKM bahasa Inggris yang diikutinya, wajar saja jika gadis itu baru kembali ke kamar kosnya setelah jauh malam. Reva meletakkan tas dan semua buku-buku yang dari tadi ditentengnya, ia menutup pintu dan menghempas dirinya ke ranjang.

Ranjang itu berderit sedikit saat Reva berdiri dari tidurnya, ia berjalan ke depan kaca dan memperhatikan tubuhnya. Ia berputar-putar didepan kaca, tubuhnya terlihat sempurna dalam balutan kaos ketat berwarna hitam dan jeans favoritenya. Reva meraba dadanya yang membusung indah, meraba perutnya yang rata sempurna, menyentuh bokongnya yang membulat hingga bisa membuat setiap mata berpaling. Wajahnya yang cantik dengan sentuhan make-up yang simple dibingkai dengan rambut hitam lebat sepunggung seolah menyempurnakan keindahannya sebagai wanita. Namun raut wajah Reva tidak terlihat bahagia dengan semua yang dimilikinya.

Reva menarik nafas panjang saat melepas pakaiannya, ia mengeluarkan sumpalan busa dari balik branya dan meninggalkan tumpukan daging kecil tanpa punting di sebelah kanan sedang sebelah kiri rata dengan bekas luka operasi. Gadis itu menurunkan jeansnya dan memandangi celana dalam dengan sumpalan busa dibagian pantat yang dikenakannya. Reva memandangi punggungnya yang penuh dengan bekas luka, meraba perutnya yang berkerut-kerut bekas stagen ketat yang selalu dikenakannya untuk menutupi tumpukan lemak diperutnya. Tidak ada seorangpun yang tahu rahasia dibalik pakaian yang menunjukkan lekukan-lekukan tubuh yang indah..

pulau ku

Aku lahir disebuah pulau kecil yang kata orang-orang berbentuk seperti sebuah kapal jika dilihat dari pantai diseberang pulauku, pulauku sangat kecil sehingga kamu bisa berjalan dari ujung ke ujung pulau ini dalam waktu setengah hari saja. Dari pulauku hanya sekitar tiga puluh menit naik perahu motor ke pantai pulau besar tempat orang tua ku pergi berbelanja kebutuhan kami selama seminggu atau dua minggu, namun sejak lahir aku tidak pernah pergi ke sana. Usiaku genap tujuh belas tahun dua hari lagi dan aku sungguh berharap dapat melihat pulauku dari pantai pulau besar pada hari itu, aku ingin sekali membuktikan perkataan pengunjung pulauku jika pulau kecil ini berbentuk seperti kapal dengan cerobong besar.
Penghuni asli pulau ini ada sepuluh keluarga, termasuk keluargaku. Tiap orang tuaku pergi ke pulau besar, aku tidak pernah diijinkan ikut entah apa alasannya. Kata ayahku “Pokoknya tidak boleh”. Menurutku alasannya adalah keadaan fisikku, tidak..aku tidak cacat. Aku sangat cantik, seperti seorang putri kata ibuku dan bukan hanya dia yang mengatakan hal itu. Kamu boleh bilang aku geer, tetapi aku sendiripun sering terpesona dengan diriku sendiri tiap aku berdiri didepan cermin. Ayah sering memandangiku begitu rupa sambil menarik nafas panjang dan senyum pasrah, “Ah, kenapa kamu bisa lahir secantik ini” gumamnya. Oh iya, ayahku sering memanggilku Kawai. Itu nama yang diberikan seorang turis Jepang padaku ketika aku masih berusia dua tahun, katanya itu artinya imut-imut. Nama asliku sendiri aku sudah lupa, mungkin ibu dan ayahku yang masih mengingatnya.
Aneh bukan, ayahku menyesali karena aku lahir cantik. Sering aku bertanya, apa mungkin aku lebih baik lahir jelek agar ayahku lebih bahagia. Bagaimana dengan ibuku? Ibuku tidak secantik aku, bukan berarti aku bukan anak kandung. Kami memiliki wajah yang mirip, hampir serupa malah, tetapi mungkin aku versi cantik dan ibuku versi biasa saja. Lalu apa yang membuatku cantik? Kata ibuku itu karena rahangku yang oval sehingga wajahku terlihat lebih lembut dari wajah ibuku yang memiliki garis wajah tegas, karena mataku yang besar berwarna coklat terang seperti kucing dengan bulu mata yang panjang, karena rambutku yang hitam tebal dan ikal panjang sepinggang yang seperti berayun tiap aku berjalan, karena kulitku yang putih kemerah-merahan, karena tidak ada sebutir jerawatpun di tubuhku atau bekas luka atau lembam atau apapun yang membuatnya cacat, karena tubuhku yang tinggi langsing dan aku suka memegang perutku yang rata. Kata ibuku, aku ini seksi. Dadaku ranum dan bokongku penuh, kakiku panjang dan betisku sempurna. Ayahku sering membelai kepalaku dan berkata “Kamu memiliki semua yang diinginkan seorang wanita, Kawai. mereka akan membunuhmu karena iri”.
Jangan bilang aku manja, aku bekerja seperti wanita yang lain di pulau ini. Aku sering berjemur di pantai sambil menjemur ikan dan berenang dipantai tanpa menghitamkan kulitku, aku sering membantu ibuku memanjat pohon kelapa jika akan membuat santan dan sering kulitku terluka namun tidak meninggalkan bekas. Aku sering membantu ayahku menarik jala, mengayam sabut kelapa untuk dijadikan tali, memotong kayu tanpa membuat tanganku jadi kasar. Aku tidak pernah menggunakan alas kaki, namun kakiku pun tidak kapalan. Aneh menurutmu? Jangankan kamu, aku sendiri sering tidak percaya dengan tubuhku.
Kata-kata ayahku tentang wanita yang iri padaku itu.. ku rasa benar, anak tetanggaku yang seumur denganku tidak pernah mau bergaul dengan aku. Ia selalu mengejekku, mengusiliku dan sering kali kelewatan, ia sering menyombongkan apa yang dia peroleh di pulau besar karena ia tahu aku tidak pernah ke sana. Dia pernah menyangkutkan rambutku pada kaitan pancing yang ada dijala ayahku hanya karena ada pengunjung di pulau kami dan tidak mau aku menemui orang-orang itu, untung saja saat itu ibuku mencariku dan membantuku melepas jalinan rambutku dari pancing. Akibatnya aku selalu memakai cadar tiap ada pengunjung yang datang, lalu ia menyebarkan cerita tentang wajahku yang buruk dan kena kutukan pada orang-orang. Aku sih tidak peduli dan orang tuaku menyerahkan hal itu padaku, kata ayah, “Dia gadis yang sangat menyebalkan, kalau kamu mau ayah membuang dia ke laut kapan saja..tinggal bilang. Dengan senang hati ayah lakukan, dan ayahnya pun pasti rela membantu”. Lucu? Menyedihkan ku rasa, kenapa ada seorang gadis yang sebenarnya cantik namun begitu dibenci bahkan oleh keluarganya? Aku merasa itu salahku, makanya aku rela tidak pernah ke pulau besar, aku tidak mau ada gadis lain yang akan menjadi seperti dia karena aku. Tetapi sungguh, aku ingin melihat pulauku dari pantai pulau besar sekali saja pada ulang tahunku.
Kata ayah, suaraku indah dan karena mereka selalu mengajarkan untuk berbicara sopan, aku rasa hal itu juga menjadi pesonaku yang lain. Ada seorang pemuda yang sering berkunjung dipulau kami bersama keluarganya, ia sering mengajak keluarganya untuk berpiknik di pantai dekat rumahku dan ibunya sangat baik padaku. Ia sering membawakan aku buku-buku dan aku sungguh menyukai hal itu, aku tidak pernah sekolah karena ayah takut akan ada yang menyakitiku di sekolah sehingga aku jarang menemukan buku bacaan. Satu hal yang luar biasa tentang ibuku adalah ia sangat cerdas dan sangat sabar, ia menjadi guruku dan mengajari aku semuanya tanpa buku. Semua yang ada diotaknya dia pindahkan ke otakku, dan walaupun aku tidak secerdas ibuku namun wawasan ku tidak jelek-jelek amat.
Aku tertarik pada pemuda itu, ia menghiasi mimpi-mimpiku namun dia menolakku. Bukan karena aku jelek atau karena aku bodoh atau karena aku tidak sopan atau keluargaku yang orang pulau atau hal buruk lainnya karena aku tidak seperti itu kecuali memang benar keluargaku orang pulau, tetapi karena katanya aku terlalu sempurna. Aku menangis sejadi-jadinya ketika ia mengatakan hal itu, ia takut membawaku keluar dari pulauku dan katanya, “Aku takut akan menjadi pembunuh karena cemburu”. Jadi kata-kata ayahku jika aku memiliki segala yang diinginkan wanita itu tidak benar, aku tidak punya kekasih. Aku hanya memiliki keluargaku karena makhluk yang berjenis kelamin wanita lain di pulau ini begitu membenciku karena takut suami mereka akan berpaling dari mereka karena aku.
Ketika aku patah hati, aku menggores wajahku dengan karang hingga terluka. Pikirku jika aku jelek, mungkin aku akan bahagia. Ibu ku sedih namun ia mengerti. Aku makan sebanyak yang aku bisa dan hanya berbaring sepanjang hari di rumah. Sebulan berlalu dan lukaku sembuh tanpa bekas dan tubuhkupun tidak berubah. Aku ingin bunuh diri, namun ayahku berkata, “Ayah rela kalau kamu mati duluan, asalkan secara wajar. Kalau tidak, ayah akan masuk neraka selamanya karena kamu. Kalau kamu mati dibunuh, ayah akan jadi pembunuh. Kalau kamu mati bunuh diri, ayah akan menyusul kamu.. kawai. Biar sekalian ayah hidup terluka karena kamu, matipun menderita karena kamu”. Kata-kata itu menghasilkan tamparan dan air mata ibuku, “Kalau Kawai membuat kamu terluka, lebih baik kamu pergi” kata ibuku. Betapa aku mencintai orang tuaku.
Ayahku dibantu pemuda yang ku cintai itu membuat sebuah patung, patung diriku. Katanya sebagai hadiah ulang tahunku, ibuku membuatkan sebuah baju panjang yang indah dari tali-tali pancing agar tidak mudah rusak katanya. Lalu patung itu diletakkan diujung tebing tempat aku sering berdiri memandangi pantai pulau besar sambil diam-diam berharap bisa ke sana suatu hari nanti. Patung itu sangat cantik, sangat indah namun pandangannya kosong seperti bermimpi atau melamun, aku rasa seperti itu pandanganku ketika aku menghayal berdiri di pantai pulau besar. Dan aku? Tidak, aku tidak lagi hidup kini. Aku mati karena kesepian dan patung ini? Yah benar, ini tubuhku dalam peti mati berbentuk diriku sendiri. Ibuku menenggelamkan tubuh matiku dengan madu dalam patung ini, ia percaya madu akan mengawetkan tubuhku. Lalu bagaimana aku bisa bercerita? Tidak aku tidak bercerita, ini hidupku dan kesepianku yang tertulis di tebing di bawah patungku berdiri dan ditulis kembali..tidak,bukan aku – Kawai – yang menulisnya. Yang menulis ini aku – ibunya.