Kamis, 22 Januari 2015

Prioritas..oh..prioritas

Deani berusaha berjalan senormal mungkin, seanggun mungkin, sedikit risih, sedikit malu, sedikit ragu, sedikit gugup, sedikit senang melihat semua mata memandang dia. Jantungnya berdebar-debar, mata memandang ke depan, tas tangan digenggam erat. Deani tak pernah diperlakukan istimewa, malah terkadang disepelekan, tetapi hari ini berbeda, hari ini ia prioritas.

Bukan, ini bukan kiasan. Hari ini Deani benar-benar prioritas. Ketika Deani terhalang tumpukan manusia yang mengantri, tiba-tiba seruan "Prioritas..prioritas" terdengar dan dengan ajaib barisan tersibak dan memberinya jalan. Perasaannya bercampur aduk, langkahnya sedikit limbung, dan mendadak puluhan tangan datang membantu, memapahnya agar jangan sampai terjatuh.

Mendadak ada yang peduli, membuat Deani tersenyum kecil. Seorang pemuda dengan senyum tulus, mengulurkan tangan sambil menahan pintu, Deani menyambut tangan yang terulur, membiarkan dirinya dibimbing masuk.

Deani memandang kekiri dan kekanan, tak ada tempat tersisa. Kembali keajaiban kata 'Prioritas' terdengar, nyaris semua orang berdiri, memanggilnya dan memberi tempat, untuk Deani mereka rela berdiri. Ah, memang nikmat jadi prioritas, pikir Deani yang biasa dianggap tiada. Walaupun untuk sementara, setidaknya sampai ia melahirkan.