Gelegar petir melemparnya ke sudut gelap diantara dua buah gedung perkantoran, hujan meredam teriakan saat pria tak berwajah mencabik-cabiknya. Ia menangis, meronta, si pria tak peduli malah tertawa. Ia memohon, memelas, mata si pria tertutup, mengerang. Si pria menarik celana, menghempasnya dalam tempat sampah, telanjang, tak berdaya.
Matahari terbit, menyinari wajahnya, ia bangkit, bau sampah menyeruak. Terseok keluar dari tumpukan sampah, meraba-raba pakaian yang terserak. Nyeri disekujur tubuh mengingatkan betapa lemahnya ia, bahwa masa depannya sudah luluh lantak. Ia lusuh, kotor dan berdarah tetapi tak ada yang bertanya, atau sekadar menawarkan bantuan.
Petir kembali menyambar, menarik ke kenyataan yang berbeda. Ia duduk sendiri di seberang meja seorang dokter yang tampak baik hati. Ia bingung, linglung. Ia mengandung, benih nafsu pria tak berwajah, ia harus menanggung malu, seolah ia tak cukup terluka. Sebatang kara, terlecehkan, kini harus menanggung janin haram.
Kini petir membawanya ke tepian gedung, tempat ia duduk termenung. Lalu lintas dibawahnya bagai semut, menggodanya untuk terjun. Ia menarik nafas panjang, menengadahkan kepala, memandang langit, menikmati matahari. Dibelainya perut yang membuncit, bibirnya tersenyum pahit. "Tuhan....." gumamnya tanpa lanjutan, bumi masih berputar, hidup masih berjalan.
Suara desir kursi roda yang didorongnya terdengar sayup-sayup, "Suster, tolong ke kamar 205 yah" seru seseorang padanya. Ia mengangguk, berjalan pelan ke kamar yang diminta. Mendadak jantungnya berdesir kencang, walau didepannya tak pernah ia kenal. "Jangan dia, suster lain saja" teriak sang pasien.
Ia tertatih berjalan menjauhi ruangan, perlahan si pria tak berwajah mulai tercipta wajahnya. Semua luka itu, tamparan dan tinju, ketika ia runtuh dan hancur luluh menciptakan wajah si pria tak berwajah.
Cahaya petir menyambar sesekali menerangi wajahnya, rambutnya yang kusut tergerai, tangannya yang mengepal, sesosok tubuh yang meringkuk di lantai. "Tidak..kamu sudah mati..kamu sudah mati" gumam tubuh di lantai. "Yah aku sudah mati, saat itu dipinggir gedung. Lalu kau pikir aku akan pergi sendiri? Membiarkanmu menikmati hidup?".